Gabungnyawartawanindonesia.co.id | Padang Sidempuan – Peredaran narkoba di Kota Padang Sidempuan hingga kini seolah tidak pernah benar-benar mati. Bandar ditangkap, namun barang haram tetap beredar. Pemakai silih berganti masuk penjara, tetapi jaringan besar diduga tetap aman bermain di belakang layar. Kondisi ini memunculkan satu pertanyaan keras di tengah masyarakat: siapa sebenarnya yang melindungi para bandar narkoba di Kota Padang Sidempuan?
Sorotan tajam kini mengarah kepada oknum aparat Unit Resnarkoba Polres Padang Sidempuan berinisial SG. Nama tersebut ramai diperbincangkan warga setelah muncul dugaan adanya hubungan dekat dengan seorang yang diduga bandar narkoba berinisial PT.
Informasi yang beredar di tengah masyarakat menyebutkan adanya dugaan pertemuan SG dengan PT di salah satu tempat karaoke di Kota Padang Sidempuan beberapa bulan lalu. Dugaan itu membuat kemarahan publik semakin memuncak, sebab masyarakat menilai seorang aparat penegak hukum seharusnya memburu bandar narkoba, bukan justru diduga duduk santai bersama mereka.
Warga bahkan mulai terang-terangan menyebut adanya dugaan “bekingan” terhadap bisnis narkoba di Kota Padang Sidempuan. Dugaan itu bukan tanpa alasan. Sebab, hingga hari ini masyarakat menilai penangkapan yang dilakukan aparat hanya menyasar pemain kecil, pengguna, dan kurir lapangan. Sementara bandar besar disebut masih bebas mengendalikan peredaran barang haram.
“Yang ditangkap cuma pemakai dan anak buah. Bandarnya tetap aman. Ini yang membuat masyarakat curiga ada permainan kotor,” ungkap salah seorang tokoh masyarakat dengan nada geram.
Lebih mengejutkan lagi, berkembang isu adanya dugaan setoran uang dari bandar narkoba kepada oknum tertentu dengan nominal puluhan juta rupiah setiap minggu. Jika dugaan tersebut benar, maka itu bukan lagi pelanggaran biasa, melainkan bentuk penghancuran moral institusi hukum dari dalam.
Masyarakat menilai, apabila aparat yang seharusnya menjadi benteng pemberantasan narkoba justru diduga ikut bermain, maka perang melawan narkoba di Padang Sidempuan hanya akan menjadi sandiwara tanpa akhir.
Dalam musyawarah warga dan tokoh agama di Kampung Darek, keresahan itu akhirnya meledak. Tokoh masyarakat secara terbuka mempertanyakan keberanian aparat membongkar bandar besar narkoba yang selama ini disebut-sebut masih bebas berkeliaran.
“Kalau memang mau serius memberantas narkoba, jangan cuma rakyat kecil yang dijadikan tumbal. Bersihkan juga oknum-oknum berseragam yang diduga jadi pelindung bandar!” tegas salah satu tokoh agama dalam forum tersebut.
Kini masyarakat menunggu langkah tegas Kapolda Sumut dan Divisi Propam untuk mengusut tuntas dugaan keterlibatan SG maupun oknum lain yang disebut-sebut bermain di belakang jaringan narkoba. Sebab jika dugaan itu terus dibiarkan, maka bukan hanya generasi muda yang hancur, tetapi juga kepercayaan rakyat terhadap institusi penegak hukum akan runtuh di tanah sendiri.










