Gabungnyawartawanindonesia.co.id | Medan – Komitmen Polres Tapanuli Selatan dalam memberantas dugaan mafia Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi kembali dipertanyakan. Pasalnya, hingga memasuki satu bulan pasca pengungkapan kasus pengangkutan sekitar 900 liter solar subsidi di Kabupaten Padang Lawas Utara (Paluta), publik belum melihat adanya perkembangan signifikan terkait pengungkapan aktor intelektual yang diduga berada di balik praktik tersebut.
Sorotan keras itu disampaikan Dewan Pimpinan Daerah Media Online Siber Indonesia (DPD MOSI) Kota Medan. Organisasi tersebut menilai aparat penegak hukum terkesan hanya berani menyentuh pelaku lapangan, sementara pihak-pihak yang diduga memiliki peran lebih besar dalam rantai distribusi BBM subsidi hingga kini belum tersentuh proses hukum.
Kasus yang sempat dipublikasikan secara luas pada 14 Mei 2026 lalu itu awalnya digambarkan sebagai langkah tegas aparat dalam menindak penyalahgunaan BBM bersubsidi. Namun setelah satu bulan berlalu, masyarakat justru mempertanyakan hasil nyata dari proses penyidikan yang dijanjikan.
“Publik bukan hanya ingin melihat penangkapan sopir. Publik ingin mengetahui siapa pemilik BBM tersebut, dari mana asal pasokannya, siapa yang mengendalikan distribusinya, dan siapa yang menikmati keuntungan dari praktik yang diduga merugikan negara tersebut,” tegas DPD MOSI Kota Medan.
Menurut mereka, pernyataan Kapolres Tapanuli Selatan AKBP Yon Edi Winara, SH, SIK, MH yang sebelumnya menyampaikan bahwa pihaknya akan mendalami kasus dan berkoordinasi dengan Pertamina, hingga kini belum memberikan jawaban yang ditunggu masyarakat.
DPD MOSI menilai, apabila setelah satu bulan tidak ada perkembangan yang dapat dipublikasikan kepada masyarakat, maka wajar apabila muncul pertanyaan terkait efektivitas dan keseriusan penanganan perkara tersebut.
“Jangan sampai publik menilai bahwa penegakan hukum hanya berhenti pada pencitraan penangkapan di lapangan, sementara aktor utama yang diduga mengendalikan jaringan penyalahgunaan BBM subsidi justru tidak tersentuh,” ujar salah seorang pengurus DPD MOSI.
Lebih lanjut, mereka menyoroti fakta bahwa hingga saat ini belum terdengar adanya penetapan tersangka lain dari hasil pengembangan kasus. Padahal, menurut mereka, secara logika sederhana, ratusan liter solar subsidi yang diamankan tidak mungkin berpindah tangan tanpa adanya rantai distribusi dan pihak-pihak yang terlibat.
“Solar itu tidak turun dari langit. Ada proses, ada jaringan, ada pihak yang menyediakan, ada yang membeli dan ada yang mengambil keuntungan. Pertanyaannya, apakah semua itu sudah ditelusuri secara serius?” tegasnya.
DPD MOSI juga mengingatkan bahwa masyarakat memiliki peran penting dalam membantu aparat mengungkap dugaan tindak pidana. Oleh sebab itu, laporan dan informasi dari masyarakat seharusnya dijadikan dasar untuk membongkar jaringan yang lebih besar, bukan sekadar berhenti pada pelaku yang berada di lapangan.
Dalam pernyataannya, DPD MOSI meminta Kapolres Tapanuli Selatan, Kasat Reskrim, dan Kanit Tipidter untuk bekerja secara profesional, transparan, dan terbuka kepada publik terkait perkembangan penyidikan yang sedang berjalan.
Mereka menegaskan bahwa diamnya aparat selama satu bulan tanpa penjelasan yang memadai hanya akan memunculkan berbagai spekulasi dan dugaan di tengah masyarakat, sesuatu yang seharusnya dapat dihindari melalui keterbukaan informasi.
“Jika memang ada kendala dalam pengungkapan kasus ini, sampaikan secara terbuka. Namun jika tidak ada perkembangan sama sekali, maka masyarakat berhak mempertanyakan keseriusan aparat dalam membongkar dugaan mafia BBM subsidi hingga ke akar-akarnya,” kata DPD MOSI.
Bahkan organisasi tersebut menyatakan siap mengawal kasus ini hingga ke tingkat yang lebih tinggi apabila tidak terdapat langkah konkret dalam mengungkap pihak-pihak yang diduga menjadi otak di balik praktik penyalahgunaan BBM bersubsidi tersebut.
Kini perhatian publik tertuju kepada Polres Tapanuli Selatan. Sebab setelah satu bulan berlalu, masyarakat tidak lagi menunggu janji atau pernyataan, melainkan bukti nyata bahwa penegakan hukum benar-benar berjalan tanpa pandang bulu dan berani menyentuh siapa pun yang terlibat.










