GabungnyaWartawanIndonesia.co.id. Aceh Timur – Ketua Satuan Siswa, Pelajar, dan Mahasiswa (SAPMA) Pemuda Pancasila Aceh Timur, Raja Abdul Razzi, melontarkan kecaman tegas terhadap lambannya penanganan hunian sementara (huntara) bagi korban banjir di Desa Pante Labu, Kecamatan Pante Bidari, Kabupaten Aceh Timur,5/3/2026.
Menurutnya, sangat tidak manusiawi apabila ratusan warga masih harus bertahan hidup di bawah terpal dan tenda darurat hingga menjelang Hari Raya Idulfitri. Ia menilai kondisi tersebut mencerminkan lemahnya keseriusan pemerintah daerah dalam menuntaskan persoalan pascabanjir yang terjadi beberapa bulan lalu.
“Ini bukan lagi soal administrasi atau teknis pembangunan. Ini soal kemanusiaan. Tidak pantas rakyat dibiarkan berlebaran di bawah terpal sementara janji pembangunan huntara terus digantung tanpa kepastian,” tegas Raja dalam pernyataan resminya pada Selasa (4/3/2026).
Ia menyebutkan bahwa masyarakat korban banjir telah cukup bersabar menunggu realisasi 204 unit huntara yang dijanjikan. Namun hingga kini, sebagian besar bangunan masih dalam bentuk kerangka dan belum layak huni. Kondisi ini, kata dia, semakin memperparah penderitaan warga yang menjalani ibadah puasa di tengah keterbatasan.
“Jangan jual harapan kepada rakyat kecil. Jika memang ada kendala anggaran atau teknis, sampaikan secara terbuka. Transparansi itu penting agar masyarakat tidak merasa dibohongi,” ujarnya lantang.
Raja juga meminta pemerintah kabupaten untuk segera turun langsung ke lokasi dan memastikan percepatan pembangunan huntara. Ia menegaskan bahwa SAPMA PP Aceh Timur siap mengawal persoalan ini hingga tuntas.
“Kami tidak akan tinggal diam. Jika dalam waktu dekat tidak ada langkah konkret, kami akan mengambil sikap dan melakukan konsolidasi aksi sebagai bentuk kepedulian terhadap nasib warga,” tambahnya.
Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat dan organisasi kepemudaan di Aceh Timur untuk bersatu mendesak percepatan penanganan korban banjir, agar warga dapat merayakan Idulfitri dengan lebih layak dan bermartabat.
“Lebaran adalah momentum kemenangan dan kebahagiaan. Jangan biarkan saudara-saudara kita merayakannya dalam kesedihan dan ketidakpastian,” tutup Raja.
(Eric Karno)
