Pandeglang-Banten-Senin-06-Juli-2026 / Pekerjaan P3TGAI (Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi) yang dikerjakan oleh kelompok tani bertujuan untuk memperbaiki dan memperlancar distribusi air ke lahan persawahan secara partisipatif. Hal ini dilakukan demi meningkatkan produktivitas pertanian, mendukung ketahanan pangan, sekaligus menggerakkan ekonomi perdesaan.
Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3-TGAI) dilaksanakan secara swakelola oleh kelompok tani (P3A/GP3A). Pekerjaan wajib mematuhi Petunjuk Teknis (Juknis) dari Kementerian PUPR dan memprioritaskan keselamatan dengan selalu memakai Alat Pelindung Diri (APD) standar (seperti helm proyek, rompi, sarung tangan, dan sepatu boots) selama di lokasi kerja.
Tapi sialnya diduga Pekerjaan P3TGAI dikerjakan oleh kelompok P3A Karya Maju,Daerah irigasi D.I Cigodes, Lokasi kegiatan Kp.Wangun Desa Sindang Karya Kecamatan Menes Kabupaten Pandeglang Banten, Diduga tidak sesuai petunjuk teknis dan para pekerjanya pun abaikan APD (Alat pelindung Diri).
Pasalnya saat tim investigasi Gabungnya Wartawan Indonesia (GWI) pandeglang mendatangi titik lokasi pekerjaan terlihat para pekerja tak memakai APD lengkap, Hanya ada beberapa orang yang memakai sepatu bots dan pekerjaan diduga tidak sesuai petunjuk teknis serta diduga material batu pondasi di campur dengan kualitas yang rendah,Terlihat dengan adanya tumpukan batu yang satu tumpuk kualitas bagus dan satu tumpukan lagi diduga kualitas rendah dengan adanya batu yang masih terbungkus kulit batu.
Disinyalir pemasangan batu pondasi awal pun tidak memakai amparan pasir ukuran 0,05 dan tidak diberikan adukan pasir dan semen terlebih dahulu, diduga kuat hanya batu yang langsung di tancapkan ke tanah dan disusun sedemikian rupa baru diberikan adukan semen dan pasir.
Beberapa para pekerja saat di konfirmasi oleh awak media mengatakan.” Kami mengerjakan ini upahnya borongan singkat mereka.
Raeynold Kurniawan ketua (Gabungannya Wartawan Indonesia) DPC pandeglang angkat bicara.” Untuk petunjuk teknis wajib di patuhi apalagi APD jelas ada aturan yang sudah ditetapkan.Bagai mana kualitas dari pembangunan tersebut bisa bertahan minimal 5 tahun kalau dari pekerjaannya diduga Asjad alias asal jadi tegasnya.
Raeynold Kurniawan juga menambahkan.” Kalau benar seperti itu keadaaan nya jelas kuat dugaan kami,ini lemahnya pengawasan baik dari ketua kelompok tani nya dan pihak konsultan pengawas, kami berharap dinas terkait jangan tutup mata, cek kelokasi pekerjaan dari awal jangan hanya dokumentasi diatas kertas tutupnya.
Reporter: Tim investigasi GWI










