Jembatan Krueng Tingkeum Resmi Dibuka, Penantian Hampir Setahun Berakhir | GWI.co.id

banner 468x60

BREAKING NEWS : GWI ACEH 

Jembatan Krueng Tingkeum Resmi Dibuka, Penantian Hampir Setahun Berakhir

Gabungnyawartawanindonesia.co.id | BIREUEN — Penantian panjang masyarakat dan pengguna jalan lintas nasional Banda Aceh–Medan akhirnya berakhir. Jembatan baru Krueng Tingkeum, Kecamatan Kutablang, Kabupaten Bireuen, resmi dibuka dan kembali menghubungkan arus lalu lintas pada Minggu, 20 September 2026.

Pembukaan jembatan sepanjang sekitar 149 meter tersebut menjadi momentum penting bagi pemulihan konektivitas jalur nasional Aceh setelah hampir setahun masyarakat harus beradaptasi dengan akses darurat akibat kerusakan jembatan lama yang diterjang banjir besar pada akhir November 2025.

Selama masa pemulihan, jembatan Bailey menjadi satu-satunya penopang akses sementara di kawasan tersebut.

Sistem pengaturan lalu lintas buka-tutup yang diberlakukan membuat perjalanan masyarakat, angkutan umum hingga distribusi barang harus menyesuaikan kondisi lapangan.

Kini, kondisi tersebut berakhir.

Dengan beroperasinya jembatan permanen, kendaraan dari arah Banda Aceh maupun Medan dapat kembali melintasi Krueng Tingkeum melalui akses yang dibangun untuk menggantikan fungsi jembatan lama.

Jalur Banda Aceh–Medan sendiri bukan sekadar ruas jalan nasional. Koridor tersebut merupakan salah satu urat nadi mobilitas Aceh, yang setiap hari menjadi jalur pergerakan masyarakat, angkutan penumpang, distribusi kebutuhan pokok serta arus barang antardaerah.

Karena itu, terganggunya akses Krueng Tingkeum selama berbulan-bulan turut memberikan dampak terhadap kelancaran perjalanan dan aktivitas ekonomi masyarakat di sepanjang lintasan tersebut.

Sebelum resmi dioperasikan, pembangunan jembatan baru telah memasuki tahap akhir. Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 1.3 Provinsi Aceh, Isnanda, sebelumnya menyampaikan bahwa progres pekerjaan telah mencapai sekitar 99 persen.

Sejumlah pekerjaan akhir meliputi finishing pengecatan, pembuatan marka jalan serta pemasangan ornamen pada bagian jembatan.

Aspek keselamatan juga menjadi bagian penting sebelum jembatan dinyatakan layak digunakan. Pemeriksaan teknis dilakukan, termasuk pengujian beban atau load test. Pengujian tersebut juga dilakukan pada malam hari sebagai bagian dari rangkaian pemeriksaan teknis sebelum akses dibuka untuk kendaraan umum.

Target pengoperasian pada 20 September 2026 akhirnya terealisasi.

Peusijuek Tandai Dibukanya Akses Permanen
Prosesi pembukaan berlangsung di kawasan Jembatan Krueng Tingkeum dan dihadiri sejumlah pejabat daerah serta unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Bireuen.

Hadir antara lain Bupati Bireuen H. Mukhlis, S.T., Wakil Bupati Ir. H. Razuardi, M.T., Dandim 0111/Bireuen Letkol Inf. Dikdik Sukayat, S.I.P., M.I.P., serta Kapolres Bireuen AKBP Yulhendri, S.H., S.I.K., M.I.K.

Momentum tersebut turut ditandai dengan prosesi peusijuek oleh tokoh ulama setempat sebagai bentuk doa dan harapan agar jembatan yang kembali menghubungkan pergerakan masyarakat tersebut memberikan manfaat luas serta keselamatan bagi para pengguna jalan.

Pantauan wartawan di lokasi, pembukaan jembatan mendapat perhatian besar dari masyarakat. Sejumlah warga tampak menunggu momen ketika kendaraan mulai melintasi jembatan baru tersebut.

Bagi masyarakat, momen itu bukan sekadar peresmian sebuah infrastruktur.

Dibukanya kembali akses permanen menjadi simbol berakhirnya masa panjang penggunaan jalur darurat sekaligus kembalinya kelancaran perjalanan di salah satu titik penting lintasan Banda Aceh–Medan.

Hampir satu tahun setelah banjir besar merusak jembatan lama, masyarakat akhirnya kembali mendapatkan akses permanen.

Istilah “Selat Hormuz”, sebutan bernada sindiran yang sempat muncul di tengah masyarakat untuk menggambarkan tersendatnya arus kendaraan di kawasan tersebut, kini perlahan tinggal menjadi catatan perjalanan panjang pemulihan akses Krueng Tingkeum.

Pemulihan Konektivitas Pascabencana
Beroperasinya jembatan baru tidak hanya menyelesaikan persoalan akses di satu titik. Infrastruktur tersebut menjadi bagian dari upaya mengembalikan konektivitas jalur nasional yang sempat terganggu akibat bencana.

Kelancaran jalur Banda Aceh–Medan memiliki arti strategis bagi mobilitas masyarakat dan aktivitas ekonomi.

Setiap kelancaran perjalanan di koridor tersebut turut berkaitan dengan distribusi barang, kebutuhan pokok, angkutan penumpang serta hubungan ekonomi antarkabupaten dan antardaerah.

Meski demikian, beroperasinya jembatan baru bukan berarti seluruh pekerjaan di kawasan Krueng Tingkeum telah selesai. Penanganan terhadap jembatan lama masih dilakukan secara bertahap sesuai tahapan pekerjaan berikutnya.

Sementara itu, jembatan Bailey yang selama ini menjadi akses sementara juga direncanakan untuk dibongkar setelah jembatan permanen berfungsi secara penuh.

Minggu, 20 September 2026, akhirnya menjadi salah satu tanggal penting bagi masyarakat Bireuen dan pengguna jalan lintas Banda Aceh–Medan.

Setelah hampir setahun menunggu dan melewati masa akses darurat, Jembatan Krueng Tingkeum kembali membuka jalan permanen bagi arus manusia, barang dan aktivitas ekonomi Aceh.

Bukan hanya sebuah jembatan yang kembali berdiri, tetapi sebuah konektivitas yang kembali tersambung.

(Reporter/Pers Media GWI-ACEH Wilayah Aceh : Waka GWI :M.Ali Aceh)

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *