Khanduri Laot Iboih Tradisi Leluhur Perkuat Kebersamaan dan Identitas Maritim Sabang || GWI.co.id.

banner 468x60

BREAKING NEWS : GWI ACEH 

Khanduri Laot Iboih Tradisi Leluhur Perkuat Kebersamaan dan Identitas Maritim Sabang

Gabungnyawartawanindonesia.co.id.|| Sabang – Rabu, 6 Mei 2026 || Tradisi adat laut yang sarat nilai religius, budaya, dan kebersamaan kembali menggema di pesisir Kota Sabang melalui pelaksanaan Khanduri Laot dan Doa Bersama di Gampong Iboih, Kecamatan Sukamakmue. Kegiatan ini berlangsung khidmat dan penuh makna, menjadi wujud nyata rasa syukur masyarakat nelayan atas limpahan rezeki laut sekaligus doa bersama untuk keselamatan dalam mengarungi samudra.

Rangkaian kegiatan diawali dengan doa bersama di kawasan Pulau Rubiah, kemudian dilanjutkan dengan prosesi kenduri laot yang berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan. Di bawah tenda sederhana, masyarakat tampak duduk berbaur tanpa sekat, menikmati hidangan bersama—sebuah gambaran kuat tentang nilai kebersamaan dan solidaritas yang masih terjaga kokoh di tengah kehidupan masyarakat pesisir.

Kegiatan ini dihadiri oleh berbagai unsur penting, di antaranya Panglima Laot se-Kota Sabang, Keuchik Gampong Iboih beserta perangkat desa, unsur TNI/Polri, Dansubdenpom IM/2-1 Sabang, Sekda dan jajaran Pemerintah Kota Sabang, Ketua MPU Sabang, Kapolres Sabang beserta jajaran, Kepala BPKS Sabang bersama staf, tokoh masyarakat, serta tamu undangan lainnya. Kehadiran mantan Gubernur Aceh, Azwar Abubakar, turut menambah kekhidmatan acara.

Kehadiran Kepala BPKS Sabang beserta jajaran menjadi sinyal kuat dukungan terhadap pelestarian adat dan budaya lokal, sekaligus mempertegas sinergi antara pembangunan kawasan dengan kearifan lokal yang telah mengakar di tengah masyarakat.

Kepala BPKS Sabang, Iskandar Zulkarnaen, menegaskan bahwa Khanduri Laot bukan sekadar tradisi seremonial, melainkan bagian penting dari identitas maritim Sabang yang memiliki nilai strategis, baik secara sosial maupun ekonomi.

“Tradisi ini adalah warisan berharga yang harus terus dijaga. Selain memperkuat kebersamaan masyarakat, Khanduri Laot juga memiliki potensi besar sebagai daya tarik wisata budaya yang mampu mengangkat citra Kota Sabang di tingkat nasional,” ujarnya.
Keuchik Gampong Iboih, Bukhari Ismail, menambahkan bahwa tradisi ini merupakan peninggalan leluhur yang tidak hanya sarat nilai spiritual, tetapi juga menjadi perekat hubungan sosial masyarakat.

“Khanduri Laot adalah ruang kebersamaan. Di sinilah kita memperkuat silaturahmi, menanamkan nilai gotong royong, dan menjaga jati diri masyarakat pesisir agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman,” ungkapnya.

Sementara itu, Panglima Laot Iboih, Lukman Hakim, menekankan bahwa tradisi ini juga memiliki makna filosofis dalam menjaga keseimbangan hubungan manusia dengan alam, khususnya laut sebagai sumber kehidupan utama masyarakat pesisir.

“Ini adalah bentuk rasa syukur sekaligus pengingat bahwa laut harus dijaga. Ketaatan terhadap hukum adat dan kelestarian lingkungan menjadi kunci keberlanjutan kehidupan nelayan,” tegasnya.

Sinergi yang terbangun antara pemerintah, aparat keamanan, lembaga kawasan, dan masyarakat dalam kegiatan ini menjadi bukti nyata komitmen bersama dalam menjaga warisan budaya sekaligus memperkuat ketahanan sosial di wilayah pesisir.

Khanduri Laot bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan simbol kuat identitas, kebersamaan, dan kearifan lokal masyarakat Sabang. Dengan terus dilestarikan, tradisi ini diharapkan tidak hanya menjadi perekat sosial, tetapi juga mampu mengangkat Sabang sebagai destinasi wisata budaya maritim yang berdaya saing dan berkarakter di tingkat nasional maupun internasional.

-Reporter/Perss Media GWI-ACEH (Wilayah Sabang) : MJ Eric Karno 

-Sumber/Photo : Kepala GWI Aceh

-Rilis/RedaksiNasional : Gabungnya Wartawan Indonesia.co.id.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *