Dalam pelaksanaan program yang dikelola oleh pihak Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) yang ada di Desa Cihanjuang Kecamatan Cibaliung Kabupaten Pandeglang-Banten diduga tidak transparan langgar Undang undang KIP terkesan Asal Jadi (Asjad) dan menjadi sorotan publik.
Dari hasil penelusuran tim investigasi Gabungnya Wartawan Indonesia (GWI) Pandeglang terkait pengerjaan tersebut dari segi titik awal pengerjaan dan titik akhir pengerjaan serta rincian teknis pelaksanaan program diduga tidak transparan.
Heri selaku ketua Gapoktan desa Cihanjuang saat di konfirmasi terkait hal tersebut via pesan WhatsApp mengatakan.” Kunaon kitu (Kenapa Gitu) Maksudnya gimana singkatnya.
Jawaban yang sampaikan pihak Gapoktan dinilai tidak proporsional terkesan berbelit-belit menghindar dari pertanyaan yang dilontarkan oleh pihak tim GWI.
Sialnya lagi Korluh (Kordinator Penyuluh) kecamatan Cibaliung saat tim investigasi menghubungi via telf WhatsApp ia mengatakan.” Pekerjaan tersebut sudah monev tegas korluh.
Salah satu warga sekitar yang inisialnya disembunyikan mengatakan kepada awak media.” Kalau sudah di monev aneh pak.Karena selang airnya juga masih tergeletak diatas tanah, Memangnya tidak di pendam didalam tanah,Trus mesinnya juga belum datang kalau papan informasi saya mondar-mandir lewat tidak pernah melihat urainya.
M.Sutisna selaku tim investigasi GWI Pandeglang angkat bicara.” Ini pelaksanaan pengerjaannya diduga kuat tidak transparan dan asal-asalan serta papan informasi publik juga kami mencari disekitar lokasi pekerjaan tidak terlihat
Dan yang bikin aneh pihak korluh mengatakan pekerjaan tersebut sudah di monev..Yang kami lihat di lokasi pekerjaan tersebut Diduga masih sangat acak-acakan tapi bilang nya sudah monev.Bagai mana hasil monev nya tegas M.Sutisna.
Lanjut M.Sutisna mengatakan.” Jangan ada kolaborasi busuk antara pihak Gapoktan dan korluh bila memang sudah di monev kami juga akan mempertanyakan ke dinas terkait gimana hasil monev nya karena di lokasi diduga kuat hasil pekerjaan asjad dan disinyalir masih berantakan pungkasnya.
Tim investigasi GWI
