Warga Minta Pemkot Banda Aceh Evaluasi Pohon Trembesi di Jalur Wisata PLTD Apung | GWI.co.id

banner 468x60

BREAKING NEWS : GWI ACEH 

Warga Minta Pemkot Banda Aceh Evaluasi Pohon Trembesi di Jalur Wisata PLTD Apung

Gabungnyawartawanindonesia.co.id | BANDA ACEH — Warga Gampong Punge Blang Cut, Kecamatan Jaya Baru, Kota Banda Aceh, Munzir, meminta Pemerintah Kota Banda Aceh mengevaluasi keberadaan pohon trembesi di sepanjang jalur menuju objek wisata Situs Tsunami PLTD Apung. Evaluasi dinilai penting untuk mengantisipasi potensi bahaya terhadap keselamatan masyarakat sekaligus mengatasi kerusakan fasilitas umum akibat pertumbuhan pohon yang semakin besar,Kamis,29/10/2026.

Kepada media, Munzir mengatakan akar pohon trembesi di kawasan tersebut telah merusak sejumlah fasilitas, mulai dari fondasi rumah warga, trotoar, badan jalan beraspal, hingga jalan beton. Selain itu, beberapa cabang pohon yang dinilai rapuh dan batang yang tumbuh condong ke arah jalan dikhawatirkan membahayakan pengguna jalan, terutama saat hujan deras dan angin kencang.

Menurutnya, kondisi tersebut juga berpotensi mengganggu jaringan listrik apabila dahan pohon menyentuh kabel. Risiko patahnya ranting atau cabang pohon pun perlu diantisipasi agar tidak menimpa kendaraan, rumah warga, maupun fasilitas umum lainnya.

“Pohon-pohon ini sudah tumbuh besar. Kami berharap pemerintah segera melakukan pemeriksaan dan evaluasi teknis agar potensi bahaya dapat diantisipasi sebelum terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” ujar Munzir.

Ia juga menyoroti dampak pertumbuhan pohon terhadap lingkungan permukiman. Tumpukan daun, katanya, kerap menyumbat saluran drainase, sedangkan ranting dan dedaunan yang jatuh menambah beban pemeliharaan lingkungan. Ia turut mengeluhkan kerusakan atap seng rumah warga yang menurutnya lebih cepat terjadi akibat tumpukan daun.

Selain itu, Munzir menyebut sejumlah sumur warga mengalami penurunan kedalaman air saat musim kemarau. Ia menduga kondisi tersebut berkaitan dengan tingginya kebutuhan air pohon trembesi. Namun, menurutnya, dugaan tersebut perlu diteliti lebih lanjut untuk memastikan faktor yang memengaruhi ketersediaan air tanah di kawasan itu.

Munzir berharap Pemerintah Kota Banda Aceh melalui Dinas Lingkungan Hidup, Kebersihan dan Keindahan Kota (DLHK3), bersama instansi terkait, segera melakukan pendataan dan pemeriksaan kondisi pohon di sepanjang jalur wisata tersebut.

Ia menjelaskan, Gampong Punge Blang Cut merupakan salah satu akses menuju objek wisata Situs Tsunami PLTD Apung yang dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanegara. Karena itu, menurutnya, kondisi jalan, trotoar, drainase, dan pepohonan di kawasan tersebut perlu mendapat perhatian serius agar kenyamanan serta keselamatan pengunjung tetap terjaga.

Munzir menuturkan, pohon-pohon trembesi tersebut ditanam dengan dukungan lembaga swadaya masyarakat (NGO) pada masa rehabilitasi dan rekonstruksi pascatsunami Aceh 2004. Saat itu, pepohonan ditujukan untuk menghadirkan keteduhan di kawasan yang sebelumnya gersang.

Namun, seiring bertambahnya usia dan ukuran pohon serta terbatasnya ruang tanam di kawasan permukiman padat, keberadaannya dinilai perlu ditinjau kembali melalui kajian yang mempertimbangkan keselamatan warga, kelestarian lingkungan, dan penataan kawasan perkotaan.

Ia juga menilai dahan yang menjuntai ke badan jalan berpotensi menghambat mobilitas kendaraan, termasuk bus wisata yang menuju PLTD Apung. Di sejumlah titik, kerusakan trotoar membuat fasilitas bagi pejalan kaki tidak dapat dimanfaatkan secara optimal, sementara genangan air dan ranting pohon turut dikeluhkan pengguna jalan.

Atas kondisi tersebut, Munzir meminta pemerintah melakukan kajian teknis terhadap seluruh pohon trembesi di sepanjang jalur wisata PLTD Apung. Jika hasil pemeriksaan menunjukkan adanya pohon yang berisiko membahayakan masyarakat, ia berharap pemerintah mengambil langkah penanganan sesuai rekomendasi teknis, baik melalui pemangkasan, perawatan, penataan, maupun peremajaan dan penggantian pohon dengan jenis yang lebih sesuai untuk kawasan perkotaan.

Selain penanganan pepohonan, ia mendorong revitalisasi kawasan melalui perbaikan badan jalan, trotoar, dan sistem drainase. Penambahan fasilitas pendukung, seperti bangku istirahat, lampu penerangan, serta lampu hias di sejumlah titik, juga dinilai dapat meningkatkan kenyamanan kawasan wisata.

“Harapan kami, kawasan wisata PLTD Apung menjadi lebih aman, nyaman, dan tertata. Dengan begitu, kunjungan wisatawan dapat meningkat, ekonomi masyarakat sekitar ikut bergerak, dan sektor pariwisata dapat memberikan kontribusi lebih besar terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Banda Aceh,” tutup Munzir.

(Sumber | Sekjend Sekber Aceh|

-Mj Eric Karno | Kaperwil | GWI-ACEH 

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *