BREAKING NEWS : GWI ACEH
Abu MUDI Samalanga Sambangi Sabang, Silaturahmi Ulama dan Umara Berpadu dalam Rangkaian Wisuda hingga Pengajian TASTAFI
Gabungnyawartawanindonesia.co.id | SABANG — Suasana religius dan keakraban ulama dengan pemerintah kembali terasa di Kota Sabang. Kehadiran Abu Syekh H. Hasanoel Bashry HG atau yang lebih dikenal dengan Abu MUDI Samalanga, bersama rombongan, menjadi bagian penting dari rangkaian agenda keagamaan dan pendidikan Islam di ujung barat Indonesia, Rabu (16/9/2026).
Kedatangan ulama kharismatik Aceh tersebut turut didampingi Wali Kota Sabang H. Zulkifli H. Adam, yang menyambut dan mendampingi rangkaian kegiatan Abu MUDI selama berada di Kota Sabang.
Kunjungan tersebut tidak hanya menjadi momentum silaturahmi, tetapi juga mempertemukan tiga ruang penting dalam kehidupan masyarakat—pendidikan, dakwah dan pemerintahan—dalam suasana penuh kekeluargaan.
Salah satu agenda utama Abu MUDI di Sabang adalah menghadiri Wisuda Sarjana Angkatan III STIS Al-Aziziyah Sabang. Pemerintah Kota Sabang juga mengonfirmasi kehadiran Abu MUDI dalam rangkaian wisuda tersebut.
Dari Samalanga ke Pulau Weh
Abu MUDI bukan nama asing dalam khazanah pendidikan Islam Aceh. Syekh H. Hasanoel Bashry HG merupakan pimpinan Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga, Kabupaten Bireuen.
Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga merupakan lembaga pendidikan Islam yang berada di Kemukiman Mesjid Raya, Kecamatan Samalanga, Kabupaten Bireuen. Lembaga tersebut dikenal dengan tradisi pendidikan Islam berbasis kitab kuning dan memiliki jaringan alumni yang tersebar di berbagai daerah.
Menurut profil yang diterbitkan Dinas Dayah Aceh, Abu MUDI berasal dari keluarga Teungku Haji Gadeng, tokoh masyarakat kawasan Dewantara, Aceh Utara. Ia kemudian menempuh pendidikan di Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga dan melanjutkan pengembaraan keilmuannya dalam tradisi pendidikan dayah Aceh.
Sepeninggal Abon Abdul Aziz pada 1989, kepemimpinan Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga dilanjutkan oleh Abu MUDI. Di bawah kepemimpinannya, MUDI berkembang sebagai salah satu pusat pendidikan Islam di Aceh.
Silaturahmi Hangat di Pendopo Wali Kota
Di sela agenda kunjungannya, Abu MUDI bersama rombongan bersilaturahmi dengan Wali Kota Sabang H. Zulkifli H. Adam di Pendopo Wali Kota Sabang.
Pertemuan berlangsung dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan. Tidak terlihat sekadar sebagai pertemuan seremonial, silaturahmi tersebut menjadi ruang berbagi pandangan sekaligus mempererat hubungan antara ulama dan pemerintah daerah.
Jamuan makan bersama di Pendopo turut melengkapi suasana pertemuan. Kehadiran Abu MUDI dan rombongan diterima sebagai tamu kehormatan dalam rangkaian kunjungan ke Kota Sabang.
Bagi pemerintah daerah, perjumpaan ulama dan umara memiliki arti tersendiri, terutama dalam membangun komunikasi yang konstruktif antara kehidupan keagamaan, pendidikan dan pelayanan kepada masyarakat.
Masjid Agung Babussalam Menjadi Ruang Bertemunya Ulama dan Jamaah
Rangkaian kunjungan Abu MUDI di Kota Sabang juga diisi dengan agenda keagamaan di Masjid Agung Babussalam.
Di masjid yang menjadi salah satu pusat kegiatan keislaman masyarakat Kota Sabang tersebut, Abu MUDI hadir dalam agenda pengajian TASTAFI.
TASTAFI merupakan majelis pengajian yang membahas tiga pokok keilmuan Islam, yakni Tauhid, Tasawuf dan Fikih. Kehadiran Abu MUDI dalam majelis tersebut menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk mendengarkan langsung kajian keislaman dari ulama yang selama puluhan tahun berkecimpung dalam dunia pendidikan dayah.
Sebelumnya, Abu MUDI juga pernah dijadwalkan hadir dalam pengajian TASTAFI di Kota Sabang. Informasi mengenai agenda 16 September 2026 tersebut turut diberitakan Radio Republik Indonesia (RRI), yang menyebut Abu MUDI akan mengisi pengajian TASTAFI di Sabang.
Ketika Ilmu Menyeberangi Pulau
Kehadiran Abu MUDI di Sabang memiliki makna lebih luas daripada sekadar sebuah kunjungan.
Dari Samalanga, salah satu kawasan penting dalam tradisi pendidikan dayah Aceh, menuju Pulau Weh di ujung barat Indonesia, perjalanan tersebut mempertemukan dua ruang yang sama-sama memiliki akar kuat dalam sejarah dan kehidupan masyarakat Aceh: ilmu dan tradisi.
Wisuda STIS Al-Aziziyah menjadi simbol keberlanjutan pendidikan generasi muda. Silaturahmi di Pendopo menjadi jembatan komunikasi antara ulama dan pemerintah. Sementara pengajian di Masjid Agung Babussalam menjadi ruang perjumpaan ilmu dengan masyarakat.
Tiga momentum tersebut bertemu dalam satu rangkaian kunjungan Abu MUDI di Kota Sabang.
Di tengah perkembangan zaman yang semakin cepat, peran pendidikan keislaman dan tradisi keilmuan dayah tetap menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Aceh. Karena itu, silaturahmi ulama dan umara bukan hanya tentang sebuah pertemuan, tetapi juga tentang menjaga kesinambungan komunikasi, nilai dan keteladanan bagi generasi yang akan datang.
Dari Samalanga, ilmu hadir ke Pulau Weh. Dari ulama, pesan keislaman bertemu dengan masyarakat. Dan dari Sabang, silaturahmi itu kembali menjadi bagian dari cerita panjang perjalanan pendidikan dan dakwah Aceh.
Ujung Barat Indonesia, tempat silaturahmi, ilmu dan tradisi terus menemukan ruang untuk bertemu.
(Reporter/Pers Media GWI-ACEH Wilayah Sabang : MJ Eric Karno)











