JAKARTA, gabungnyawartawanindonesia.co.id – Sekretaris Jenderal Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia, Mahfuz Sidik, mengingatkan bahwa eskalasi konflik antara Israel dan Amerika Serikat dengan Iran telah memasuki fase perang terbuka yang sesungguhnya di kawasan Timur Tengah, bukan sekadar aksi militer terbatas.
Menurut Mahfuz, perbedaan narasi antara pihak yang menyebutnya sebagai serangan pencegahan (pre-emptive strike) dan pihak yang mengklaim sebagai serangan balasan (retaliation) tidak mengubah fakta bahwa konflik tersebut telah berkembang menjadi konfrontasi militer langsung dengan potensi eskalasi luas.
Ia menilai, kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, serta sejumlah elite militer Iran, tidak menghentikan langkah pembalasan Teheran. Justru, respons militer Iran disebut meluas dengan menyasar kepentingan dan basis militer Amerika Serikat di sejumlah negara Teluk.
“Situasi ini perlu diwaspadai secara serius. Jika perang berlangsung berlarut-larut, dampaknya tidak hanya regional, tetapi bisa mengguncang stabilitas global,” ujar Mahfuz dalam keterangannya, Selasa (3/3/2026).
Lima Dampak Serius Perang Berlarut
1. Kekacauan Politik Kawasan
Mahfuz memprediksi potensi instabilitas politik di negara-negara Teluk yang menjadi lokasi basis militer AS, seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Bahrain, dan Kuwait.
Apabila negara-negara tersebut membentuk front bersama Israel dan AS untuk menghadapi Iran, risiko penolakan domestik dari masyarakatnya akan meningkat. Kondisi ini berpotensi memicu ketegangan politik internal dan gelombang instabilitas baru di kawasan.
2. Hilangnya Perimbangan Militer
Jika kekuatan militer Iran berhasil dilemahkan secara signifikan, maka keseimbangan kekuatan di Timur Tengah berpotensi runtuh. Israel akan muncul sebagai kekuatan militer dominan tanpa penyeimbang utama di kawasan.
Mahfuz mengingatkan bahwa preseden serangan lintas wilayah, termasuk serangan rudal ke wilayah negara lain untuk memburu target tertentu, bisa menjadi pola yang berulang tanpa adanya kekuatan penahan regional.
3. Potensi Ekspansi Agresi Regional
Ia juga menyoroti pernyataan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, yang dalam berbagai kesempatan menolak konsep solusi dua negara dan menyuarakan visi Israel Raya.
Menurut Mahfuz, jika Iran sebagai bagian dari poros perlawanan melemah, maka potensi perluasan agresi ke negara-negara seperti Lebanon, Suriah, Irak, Yordania, Mesir, hingga Arab Saudi tidak dapat diabaikan.
4. Ancaman Krisis Ekonomi Global
Perang berkepanjangan berisiko mengganggu jalur energi dunia, khususnya di Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb.
Selat Hormuz menjadi jalur vital bagi sekitar 20–30 persen distribusi minyak dan gas alam cair dunia. Sementara Bab el-Mandeb menghubungkan perdagangan energi dan logistik global melalui Laut Merah. Gangguan di dua titik strategis ini berpotensi memicu lonjakan harga energi, inflasi global, dan krisis ekonomi dunia.
5. Munculnya Perang Asimetris Baru
Mahfuz juga mengingatkan potensi berkembangnya perang asimetris. Iran dinilai memiliki jaringan proksi dan afiliasi ideologis di berbagai negara yang dapat menjadi instrumen tekanan terhadap kepentingan Israel dan Amerika Serikat di berbagai belahan dunia.
“Perang modern tidak lagi hanya berlangsung di medan tempur konvensional, tetapi juga melalui jaringan, proksi, dan operasi non-konvensional yang sulit diprediksi,” tegasnya.
Mahfuz menekankan pentingnya diplomasi internasional untuk mencegah eskalasi lebih lanjut. Ia menyerukan agar komunitas global mengambil langkah de-eskalasi dan mendorong penyelesaian konflik melalui jalur politik dan hukum internasional guna mencegah dampak sistemik terhadap stabilitas kawasan dan ekonomi dunia.
~Perss GWI Aceh -Eric Karno
