BLORA – gabungngnyawartawanindonesia.co.od./Peristiwa tragis menimpa seorang petani lanjut usia di wilayah Kecamatan Kedungtuban, Kabupaten Blora. Korban yang diketahui bernama P (76), warga Desa Wado, meninggal dunia setelah tertemper Kereta Api (KA) 266 Ambarawa Ekspres relasi Semarang Tawang – Surabaya Pasarturi, Senin (2/3/2026).
Insiden tersebut terjadi sekitar pukul 10.30 WIB di jalur hulu KM 74+9/75+0, Dusun Sudung, Desa Wado. Korban yang diduga memiliki gangguan pendengaran (tuna rungu) tidak menyadari kedatangan kereta saat hendak menyeberangi rel melalui jalur persawahan yang bukan merupakan perlintasan resmi.
Kapolres Blora AKBP Wawan Andi Susanto, S.H., S.I.K., M.H., melalui Kapolsek Kedungtuban Iptu Hadi Setyo P, SH, mengonfirmasi kejadian tersebut. Berdasarkan laporan dari masinis KA 266, petugas stasiun segera melakukan pengecekan ke lokasi dan menemukan korban sudah dalam keadaan tidak bernyawa.
“Setelah menerima informasi dari Masinis KA Ambarawa Ekspres, petugas keamanan stasiun langsung mengecek ke TKP. Benar ditemukan adanya warga yang tertemper kereta api dalam kondisi meninggal dunia,” ujar Iptu Hadi Setyo.
Kronologi bermula saat korban berjalan kaki memanggul karung berisi kacang panjang dan ketela pohon. Hasil bumi tersebut rencananya akan diantarkan ke rumah pemilik sawah yang ia garap. Namun, saat menyeberangi rel, korban tertemper hingga terpental sejauh kurang lebih 20 meter dari titik awal.
Petugas dari Polsek Kedungtuban, Koramil, bersama tim medis Puskesmas Kedungtuban yang tiba di lokasi segera melakukan olah TKP dan pemeriksaan luar terhadap tubuh korban.
“Dari pemeriksaan medis, korban mengalami luka berat pada bagian kepala dan patah tulang paha kanan. Tidak ditemukan adanya tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban. Kejadian ini murni kecelakaan akibat tertemper kereta api,” jelas Kapolsek.
Pihak keluarga korban telah menerima kejadian ini sebagai musibah dan menyatakan tidak akan melakukan penuntutan kepada pihak manapun. Diketahui, korban selama ini tinggal sendirian di rumah sementara anak-anaknya sedang merantau.
“Jenazah sudah kami serahkan kepada pihak keluarga di Kecamatan Kedungtuban untuk proses pemakaman sebagaimana mestinya,” pungkasnya.
Bambang GWI Jateng.
