Pemerintah Gempur Karhutla dengan Modifikasi Cuaca, Hujan Mulai Guyur Sumatera dan Kalimantan. 

banner 468x60

GabungnyawartawanIndonesia.co.id. Jakarta, 4 November 2026 – Pemerintah terus melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk mengendalikan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di provinsi terdampak meskipun hujan mulai turun di beberapa wilayah. Upaya dilakukan dengan metode penyemaian awan menggunakan garam (NaCl) dan es kering atau dry ice.

Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton Panjaitan mengatakan OMC dilaksanakan terutama di tiga provinsi prioritas, yakni Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Sumatera Selatan.

“Kami tetap melakukan operasi modifikasi cuaca. Namun, kali ini kami akan menyampaikan tiga provinsi yang secara signifikan kami melakukan kegiatan ini,” ujar Berton dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (4/11).

Di Kalimantan Tengah, petugas gabungan melaksanakan enam sorti OMC dengan menyemaikan 10.600 kilogram dry ice serta garam. Kegiatan ini berhasil datangkan hujan ringan di Palangkaraya dan di beberapa kabupaten seperti Sukamara, Katingan, Kotawaringin Timur, Kotawaringin Barat, Gunung Mas, dan kawasan Taman Nasional Tanjung Puting.

Di Kalimantan Selatan, petugas melaksanakan dua sorti penerbangan dengan menyemai 1.800 kilogram garam. Hasilnya, hujan ringan turun di sejumlah wilayah, antara lain Banjarbaru, Banjarmasin, Tanah Laut, dan Tanah Bumbu.

Sementara itu, di Sumatera Selatan penyemaian awan dilakukan melalui dua sorti penerbangan dengan menggunakan 5.600 kilogram garam. Langkah ini berhasil mendatangkan hujan dengan intensitas cenderung lebat di Indralaya, Ogan Ilir, sekitar Bandara Palembang, Muara Padang, dan Banyuasin.

Berton menjelaskan penanganan karhutla tetap menjadi perhatian serius karena kebakaran tidak hanya berdampak terhadap lingkungan hidup, tetapi juga keselamatan manusia.

“Peristiwa kebakaran hutan dan lahan tentu memiliki konsekuensi terhadap aspek lingkungan hidup, keselamatan manusia, kesehatan masyarakat, dan kehidupan sosial ekonomi,” tegas dia.

Berdasarkan pemantauan BNPB, hingga 3 November 2026, masih terdapat 864 titik api di sejumlah wilayah Indonesia dengan luas lahan yang saat ini dalam penanganan 1.615 hektare. Terdapat enam wilayah yang menjadi perhatian berdasarkan perkembangan titik api dan luas lahan yang ditangani.

Kalimantan Tengah mencatat peningkatan titik api sebesar 50 persen menjadi 425 titik dibandingkan hari sebelumnya. Luas lahan yang dalam penanganan juga meningkat menjadi 664 hektare.

Di Sumatera Selatan, titik api naik 186 persen menjadi 60 titik, sedangkan luas lahan yang ditangani mencapai 105 hektare atau meningkat 66 persen. Di Jambi, ditemukan 150 titik api atau meningkat 134 persen, dengan luas lahan dalam penanganan 403 hektare.

Sementara itu, Kalimantan Timur mencatat penurunan titik api menjadi 85 titik, tapi luas lahan yang terbakar meningkat menjadi 182 hektare.

Adapun di Papua Selatan, jumlah titik api turun menjadi 120 titik dan luas lahan yang ditangani berkurang 78 persen menjadi 203 hektare. Di Nusa Tenggara Timur, titik api juga mengalami penurunan menjadi 24 titik, meskipun luas lahan yang ditangani meningkat menjadi 58 hektare.

“Tentu kami mengimbau kepada pemerintah daerah secara khusus melihat terutama adanya peningkatan titik api dan juga jumlah lahan yang sedang ditangani,” tutup Berton.

(Welly)

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *