Ijeck Sentil Bahaya Politik Pragmatis: Kader HMI Diminta Jangan Gadaikan Idealisme Demi Kekuasaan

banner 468x60

GabungnyaWartawanIndonesia.co.id | Jakarta – Fenomena menguatnya politik pragmatis yang kerap menyeret aktivis mahasiswa ke pusaran kepentingan sesaat menjadi sorotan Anggota Komisi V DPR RI sekaligus Anggota Kehormatan Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI), Musa Rajekshah (Ijeck).

Di hadapan ratusan peserta Intermediate Training (Latihan Kader II/LK II) Nasional HMI Koordinator Komisariat Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Cabang Jakarta Raya, Sabtu (4/7/2026), Ijeck mengingatkan bahwa kader HMI tidak boleh kehilangan identitas sebagai penjaga moral, pengawal demokrasi, dan kekuatan intelektual yang berpihak kepada kepentingan bangsa, bukan kepada kepentingan sesaat.

Mengangkat materi “Idealisme Kader HMI dalam Berbangsa dan Bernegara,” Ijeck menegaskan bahwa perjalanan organisasi akan kehilangan makna apabila kader mulai menukar idealisme dengan kenyamanan politik ataupun kepentingan pribadi.

Mengawali pemaparannya, Ijeck mengenang masa ketika berproses di Universitas Islam Sumatera Utara (UISU). Menurutnya, proses kaderisasi HMI bukan sekadar rutinitas organisasi, melainkan ruang yang membentuk karakter, integritas, kepemimpinan, dan keberanian menyampaikan kebenaran.

Ia juga berbagi pengalaman saat menjabat sebagai Wakil Gubernur Sumatera Utara. Dalam menjalankan pemerintahan, komunikasi dengan organisasi kepemudaan, khususnya HMI yang tergabung dalam Cipayung, dinilainya menjadi bagian penting dalam membangun kebijakan yang berpihak kepada masyarakat.

Namun, pesan yang paling ditekankan adalah pentingnya menjaga idealisme di tengah derasnya godaan politik praktis.

“Sebagai kader HMI sekaligus mahasiswa, kita semua yang hadir di sini mempunyai peran untuk menentukan ke mana arah bangsa ini ke depan sekaligus mewujudkan visi Indonesia Emas 2045,” ujar Ijeck.

Menurutnya, bangsa membutuhkan kader yang berani berpikir kritis, menjaga integritas, dan tetap berdiri di atas kepentingan rakyat. Ia menilai, ketika idealisme mulai dikompromikan demi jabatan atau kepentingan sesaat, maka marwah organisasi perlahan akan terkikis.

“Di tengah politik praktis dan godaan kepentingan sesaat, idealisme kader harus menjadi benteng terakhir dalam menjaga marwah perjuangan. Karena itu, kepada adik-adik HMI saya berpesan agar terus mengamalkan nilai-nilai dan prinsip perjuangan yang telah diwariskan oleh pendiri HMI, Ayahanda Lafran Pane,” tegasnya.

Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa tantangan kader HMI saat ini bukan hanya meningkatkan kapasitas intelektual, tetapi juga mempertahankan integritas ketika berhadapan dengan berbagai kepentingan yang dapat mengaburkan arah perjuangan organisasi.

Menutup penyampaian materinya, Ijeck mengajak seluruh kader HMI untuk menjaga persatuan, memperkuat solidaritas, dan mengedepankan kepentingan bangsa di atas kepentingan kelompok maupun pribadi.

“Jagalah kekompakan dan kebersamaan kita dalam berbangsa. Dengan persatuan, kita akan mampu menghadapi berbagai tantangan dan memberikan kontribusi terbaik bagi Indonesia,” pungkasnya.

LK II Nasional HMI merupakan jenjang kaderisasi lanjutan yang dirancang untuk melahirkan kader dengan kapasitas intelektual, kepemimpinan, serta wawasan kebangsaan yang kuat. Di tengah tantangan politik, ekonomi, dan sosial yang semakin kompleks, pesan Ijeck menjadi penegasan bahwa kader HMI dituntut tetap menjadi penjaga nurani bangsa—bukan sekadar penonton, apalagi larut dalam pragmatisme yang menggerus nilai perjuangan.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *