banner 728x250

Jauh dari Kampung, Dekat di Hati: Natal Warga Toraja Jogja Penuh Haru

banner 120x600
banner 468x60

 

 

banner 325x300

 

SLEMAN ll gabungnyawartawanindonesia.co.id ll16 Januari 2026 — Natal tahun ini terasa jauh lebih dalam bagi warga Toraja yang menetap di Yogyakarta. Bertempat di Wisma Imanuel, Samirono Baru, ratusan perantau berkumpul bukan hanya untuk beribadah, tetapi untuk menemukan kembali rasa pulang yang lama dirindukan.

Sejak pagi, suasana keakraban sudah terasa. Sapaan hangat, pelukan singkat, hingga obrolan kecil tentang kampung halaman mengisi setiap sudut ruangan. Bagi banyak perantau, momen seperti ini jarang terjadi—Natal menjadi satu-satunya waktu untuk kembali merasa “utuh” sebagai keluarga besar.

Acara dibuka dengan alunan musik Natal yang menenangkan. Suasana mencair saat komunitas Senar Cantik Ukulele tampil membawakan lagu “Nggandol Gusti”. Penampilan sederhana ini justru terasa dekat dan membumi, membuat jemaat larut dalam suasana kekeluargaan.

Salah satu bagian yang paling menyentuh adalah sesi Ma’parapa, sapaan adat Toraja yang disampaikan dalam bahasa daerah. Bahasa ibu yang menggema di tanah rantau seketika membangkitkan kenangan akan rumah, orang tua, dan kehidupan di kampung. Beberapa hadirin tampak terdiam, menahan haru.

Momen hening mencapai puncaknya saat prosesi penyalaan lilin. Cahaya kecil berpindah dari satu tangan ke tangan lain, diiringi lagu “Malam Kudus”. Ruangan menjadi sunyi, penuh doa dan refleksi. Natal terasa sangat personal—bukan tentang keramaian, tetapi tentang kehadiran Tuhan di tengah pergumulan hidup.

Pesan Natal yang disampaikan menyoroti kehadiran Tuhan dalam keluarga, terutama saat hidup tidak sedang baik-baik saja. Tuhan, ditegaskan dalam khotbah, tidak menunggu manusia sempurna. Ia hadir justru di tengah ketidakpastian—pesan yang sangat relevan bagi para perantau yang berjuang jauh dari keluarga.

Usai ibadah, suasana berubah menjadi lebih cair dan meriah. Lelang makanan khas Toraja, Pa’piong, menjadi magnet perhatian. Aroma bambu dan bumbu khas seolah membawa pulang para hadirin ke kampung halaman, meski hanya lewat rasa dan kenangan.

Puncak emosi hadir saat lagu “Marendeng Marampa” dinyanyikan bersama. Lagu tentang kerinduan akan kampung halaman ini membuat banyak mata berkaca-kaca. Lagu itu bukan sekadar hiburan, melainkan pengakuan jujur akan cinta pada tanah kelahiran.

Acara ditutup dengan pembagian kado Natal bagi lansia dan anak-anak, dilanjutkan foto bersama serta makan siang penuh keakraban. Tak ada yang ingin cepat beranjak pulang. Semua seolah ingin menyimpan momen ini lebih lama.

Natal di Yogyakarta kali ini membuktikan satu hal sederhana: sejauh apa pun merantau, kebersamaan dan iman mampu menjadi rumah yang sesungguhnya.

Jurnalis: SHN
Foto: SHN
Editor: Tim Pewarna DIY

Facebook Comments Box
banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

PAGE TOP