banner 728x250

Intip Khidmatnya Malam Imlek Keluarga Liu-Lay di Kupang

banner 120x600
banner 468x60

NTT, Kupang, gabungnyawartawanindonesia.co.id., – Di balik gegap gempita kembang api yang memayungi langit Kota Kupang pada Senin (16/2/2026) malam, ada api lain yang menyala dengan makna berbeda. Di kediaman keluarga besar Liu-Lay, tumpukan kertas emas dan perak perlahan menjadi abu. Ini bukan sekadar pembakaran biasa, melainkan Jinzhi—ritual “mengirim” bekal untuk mereka yang telah tiada.

Bagi keluarga Liu-Lay, Imlek 2577 Kongzili bukan sekadar urusan baju baru atau angpau merah. Ini adalah momen “koneksi” lintas dimensi.

banner 325x300

Suasana khidmat langsung terasa saat kepulan asap hio (dupa) mulai membubung. Seluruh anggota keluarga menunduk, merapal doa yang membelah keheningan malam. Ritual ini terbagi dalam dua lapis penghormatan yang tegas namun harmonis.

* Di Halaman Rumah: Doa dipanjatkan kepada Sang Pencipta. Uang arwah berwarna emas dibakar sebagai simbol syukur atas napas kehidupan.

* Di Dalam Rumah: Suasana lebih personal. Uang perak, replika sepatu, hingga pakaian kertas dipersembahkan untuk para leluhur sebagai bentuk bakti yang tak putus meski raga tak lagi bersama.

“Ini cara kami mengajar anak cucu. Selama kaki masih berpijak di bumi, jangan pernah lupa bersyukur pada Sang Kuasa dan menghormati akar (leluhur) kita,” ujar Edy Lauw, sang kepala keluarga yang akrab disapa Liu Sun Nyan.

Ada pemandangan unik di depan pintu masuk: batang tebu. Bagi warga awam, ini mungkin hanya tanaman biasa, namun bagi etnis Tionghoa di Kupang, tebu adalah doa visual. Ruas-ruasnya melambangkan tangga rezeki, sementara rasanya yang manis adalah harapan agar tahun yang baru jauh dari pahitnya kehidupan.

Setelah urusan “langit” selesai, ritual berpindah ke meja makan. Inilah ultimate goal dari perayaan Imlek bagi keluarga Liu-Lay.

“Makan malam bersama adalah wujud kebersamaan yang nyata. Di sinilah nilai keluarga dirawat tanpa perlu banyak teori,” tambah Edy.

Di tengah gempuran tren gaya hidup modern, apa yang dilakukan keluarga Liu-Lay di sudut NTT ini adalah sebuah pernyataan sikap. Mereka membuktikan bahwa menjadi modern tak harus kehilangan identitas.

Ritual Jinzhi bukan tentang seberapa banyak kertas yang dibakar, melainkan tentang menjaga bara api tradisi agar tidak padam ditelan zaman. Di Kupang, Imlek tetaplah sebuah pulang—kembali ke akar, kembali ke keluarga. (Albon AS)

Facebook Comments Box
banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

PAGE TOP