banner 728x250

SIKAP TAK TERBANTAHKAN DARI SABANG Waka TKP Baderhood: Serangan Air Keras terhadap Aktivis HAM adalah Teror Terencana — Negara Diuji, Jangan Gagal!

banner 120x600
banner 468x60

BREAKING NEWS : GWI ACEH 

SIKAP TAK TERBANTAHKAN DARI SABANG
Waka TKP Baderhood: Serangan Air Keras terhadap Aktivis HAM adalah Teror Terencana — Negara Diuji, Jangan Gagal!

banner 325x300

Gabungnyawartawanindonesia.co.id.||SABANG-ACEH, 18 Maret 2026 — Aksi penyiraman air keras terhadap aktivis HAM Andrie Yunus pada Kamis malam, 12 Maret 2026, sekitar pukul 23.00 hingga 23.37 WIB, kini tidak lagi sekadar menjadi berita kriminal. Peristiwa ini telah berubah menjadi ujian serius bagi negara, sekaligus cermin rapuhnya perlindungan terhadap kebebasan sipil di Indonesia.

Gelombang kecaman terus menguat. Dari pusat hingga daerah, dari akademisi hingga komunitas, satu suara menggema: ini bukan kejahatan biasa—ini teror.

Dari ujung barat Indonesia, Kota Sabang, pernyataan keras dan tanpa kompromi disampaikan oleh Nori Karno, Wakil Ketua (Waka TKP) Baderhood Sabang. Ia menegaskan, serangan tersebut tidak bisa dipandang sebagai insiden acak, melainkan indikasi kuat adanya upaya sistematis untuk membungkam suara kritis.

“Ini bukan sekadar kekerasan. Ini adalah teror yang terencana dan penuh pesan intimidasi. Siapa pun yang berani bersuara, sedang diperingatkan dengan cara paling keji,” tegas Nori Karno.
Ia menilai, jika negara gagal membaca dan merespons dengan cepat, maka yang dipertaruhkan bukan hanya penegakan hukum, tetapi masa depan demokrasi itu sendiri.

“Kalau aparat lambat, kalau penanganan tidak transparan, maka publik berhak curiga: ada apa di balik ini semua? Negara tidak boleh terlihat lemah, apalagi kalah,” ujarnya tajam.

Menurutnya, korban bukan orang biasa. Ia adalah bagian dari kelompok yang selama ini berdiri di garis depan memperjuangkan keadilan. Maka, serangan ini memiliki dimensi yang jauh lebih luas dari sekadar tindak kriminal.

“Ini pesan gelap: jangan kritis, jangan melawan. Dan kalau pesan ini dibiarkan hidup, maka demokrasi kita sedang berjalan menuju kemunduran,” katanya.
Nori Karno juga secara terbuka menekan aparat penegak hukum agar tidak bermain aman dalam kasus ini. Ia menuntut langkah konkret, cepat, dan berani.

“Jangan uji kesabaran publik. Tangkap pelaku, bongkar motifnya, buka semuanya seterang-terangnya. Hukum tidak boleh jadi alat formalitas—hukum harus jadi jawaban,” tegasnya.

Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa kegagalan dalam mengungkap kasus ini akan menciptakan preseden berbahaya: bahwa kekerasan bisa menjadi alat efektif untuk membungkam.

“Kalau ini tidak dituntaskan, maka kita sedang membuka pintu bagi teror berikutnya. Dan saat itu terjadi, negara tidak lagi sekadar lalai—tapi ikut bertanggung jawab,” ucapnya lugas.
Komunitas Baderhood Sabang, kata Nori, menyatakan sikap tanpa abu-abu: berdiri bersama korban, mengawal proses hukum, dan menolak segala bentuk pembiaran.

“Ini bukan hanya soal satu kasus. Ini soal arah bangsa. Negara harus memilih: berdiri bersama keadilan, atau diam dan membiarkan teror menang,” tutupnya.
Kini, sorotan publik mengarah tajam kepada aparat penegak hukum. Tidak ada lagi ruang untuk lamban, tidak ada tempat untuk ragu.

Karena ketika hukum diam, teror akan berbicara lebih keras.

~Reporter/Perss Media GWI-ACEH (MJ Eric Karno)

~Rilis/RedaksiNasional : Gabungnyawartawanindonesia.co.id

Facebook Comments Box
banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

PAGE TOP