Namlea, gabungnyawartawanindonesia.co.id 13 Februari 2026 — Nama Helena Ismail menjadi sorotan di tengah dinamika pertambangan di kawasan Gunung Botak, Kabupaten Kabupaten Buru.
Ia merupakan Direktur PT Wanshuai Indo Mining yang kini mengambil peran sebagai bapak angkat koperasi di wilayah tambang emas tersebut.

Selama bertahun-tahun, Gunung Botak dikenal sebagai kawasan dengan potensi emas yang besar, namun tak lepas dari persoalan hukum, konflik kepentingan, serta sengketa pengelolaan. Di tengah kondisi itu, PT Wanshuai Indo Mining hadir dengan skema pembinaan koperasi masyarakat lokal sebagai bagian dari upaya penataan tata kelola tambang.
Langkah tersebut memunculkan beragam respons. Sebagian kalangan menilai program bapak angkat koperasi membuka peluang pemberdayaan ekonomi warga sekitar tambang. Namun, kritik dan tudingan juga bermunculan, terutama terkait transparansi, legalitas, serta dampak lingkungan dari aktivitas pertambangan.
Helena Ismail menegaskan bahwa perusahaan yang dipimpinnya tidak hanya berorientasi pada produksi, tetapi juga pada penataan sistem yang lebih tertib dan melibatkan masyarakat secara aktif.
Menurutnya, program pembinaan koperasi dirancang agar warga lokal tidak sekadar menjadi penonton, melainkan turut memiliki peran dalam pengelolaan sumber daya di wilayahnya sendiri.
Di sisi lain, dukungan datang dari sejumlah tokoh , di antara nya Ketua Umum Elang Tiga Hambalang, H. Dedy Safrizal, menyampaikan apresiasi terhadap langkah pembinaan koperasi yang dinilai dapat memperkuat posisi masyarakat dalam aktivitas tambang.
Hal senada disampaikan Sekjen Elang Tiga Hambalang, Ganda Satria Dharma, yang menyatakan dukungannya terhadap upaya penataan dan pemberdayaan masyarakat di kawasan Gunung Botak.
Sebagai perempuan yang memimpin perusahaan tambang di sektor yang selama ini identik dengan dominasi laki-laki, Helena Ismail juga dinilai menjadi simbol perubahan. Ia memilih merespons berbagai kritik melalui pendekatan dialog dan kerja nyata di lapangan.
Polemik di Gunung Botak hingga kini masih bergulir. Namun di tengah berbagai perdebatan, Helena Ismail menegaskan komitmennya untuk mendorong pengelolaan tambang yang lebih tertata, legal, dan memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat Kabupaten Buru



















