Illiza Soft Launching Perpustakaan Luar Ruangan Banda Aceh, Kolaborasi Literasi dengan Seoul Hadirkan Ruang Baca Publik | GWI.co.id

banner 468x60

BREAKING NEWS : GWI ACEH 

Illiza Soft Launching Perpustakaan Luar Ruangan Banda Aceh, Kolaborasi Literasi dengan Seoul Hadirkan Ruang Baca Publik

Gabungnyawartawamindonesia.co.id | BANDA ACEH – Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, melakukan soft launching Banda Aceh Outdoor Library atau Perpustakaan Luar Ruangan Banda Aceh di Pustaka Wilayah Aceh, Sabtu (7/11/2026). Program ini menjadi langkah pengembangan budaya literasi melalui penyediaan ruang baca terbuka yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat.

Perpustakaan luar ruangan tersebut merupakan bagian dari kerja sama internasional antara Pemerintah Kota Banda Aceh dan Pemerintah Metropolitan Seoul, Korea Selatan, melalui Seoul ODA Challenge Project 2026. Dalam program tersebut, Banda Aceh terpilih bersama Kota San Salvador Centro di El Salvador dari sejumlah kota di dunia yang mengikuti program tersebut.

Melalui kolaborasi ini, Pemerintah Metropolitan Seoul memberikan dukungan teknis serta pengadaan sejumlah peralatan untuk membantu pengembangan konsep perpustakaan luar ruangan di Banda Aceh.

Sebagai bagian dari persiapan, Pemerintah Kota Banda Aceh juga telah mengirimkan tiga perwakilan untuk mengikuti pelatihan selama satu minggu di Seoul. Mereka mempelajari secara langsung konsep perencanaan, pengelolaan hingga operasional perpustakaan luar ruangan yang telah dikembangkan di ibu kota Korea Selatan tersebut.

Wali Kota Illiza mengatakan, program ini merupakan upaya menghadirkan budaya membaca dengan pendekatan yang lebih terbuka, kreatif, dan mudah dijangkau masyarakat.

Menurutnya, aktivitas membaca tidak harus selalu berlangsung di dalam gedung perpustakaan, tetapi juga dapat dilakukan di taman dan ruang publik, sembari menikmati suasana kota bersama keluarga maupun teman.

“Kita berkomitmen agar buku dan kegiatan membaca semakin dekat dengan masyarakat. Membaca tidak harus selalu dilakukan di gedung perpustakaan. Membaca juga bisa dilakukan di taman, di ruang terbuka, bersama keluarga, bersama teman, sambil menikmati suasana kota,” ujar Illiza.

Dalam perencanaannya, Perpustakaan Luar Ruangan Banda Aceh akan dipusatkan di Taman Bustanussalatin. Kawasan taman tersebut dirancang mampu menampung sekitar 2.000 pengunjung sehingga dapat menjadi ruang interaksi masyarakat sekaligus pusat kegiatan literasi, budaya, dan kreativitas.

Program ini dirancang berlangsung selama delapan pekan, mulai 31 Oktober hingga 20 Desember 2026. Selama periode tersebut, akan digelar 16 hari aktivasi dengan sedikitnya 40 kegiatan yang meliputi literasi, kreativitas, kebudayaan, keluarga, dan komunitas.
Pelaksanaannya juga melibatkan lebih dari 50 komunitas dan mitra, sebagai bentuk kolaborasi untuk memperluas partisipasi masyarakat.

Beragam kegiatan akan dihadirkan, mulai dari mendongeng, mewarnai, permainan tradisional, bedah buku, bedah film, pertunjukan seni, lokakarya budaya hingga berbagai aktivitas kreatif lainnya.

Dengan demikian, masyarakat yang berkunjung tidak hanya mendapatkan kesempatan membaca buku, tetapi juga dapat menikmati pengalaman belajar, berekspresi, berinteraksi, dan membangun kreativitas di ruang terbuka.

Illiza berharap, program tersebut tidak berhenti setelah delapan pekan pelaksanaan, melainkan dapat dikembangkan menjadi agenda literasi berkelanjutan yang diselenggarakan minimal dua kali dalam setahun, terutama setelah revitalisasi Taman Bustanussalatin selesai.

Ia juga menilai kehadiran perpustakaan luar ruangan berpotensi memberikan dampak positif terhadap aktivitas ekonomi masyarakat. Meningkatnya kunjungan ke kawasan taman diharapkan dapat membuka peluang bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk turut memasarkan produk mereka.

“Atas nama Pemerintah dan masyarakat Kota Banda Aceh, kami menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Metropolitan Seoul, Tim HanGlobal, serta seluruh pihak yang telah mendukung terwujudnya Perpustakaan Luar Ruangan Banda Aceh ini,” ungkap Illiza.

Sementara itu, Kepala Divisi Pembangunan Pemerintah Metropolitan Seoul, Mr. Park Chang-hyun, menjelaskan bahwa konsep perpustakaan luar ruangan telah dikembangkan di Seoul sebagai salah satu upaya meningkatkan kebahagiaan dan kualitas hidup masyarakat melalui kegiatan membaca di tengah kota.

Menurut Park, konsep tersebut memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk menikmati waktu luang, membaca buku, sekaligus berinteraksi melalui berbagai kegiatan seni dan kebudayaan di ruang publik.

“Kota Metropolitan Seoul telah menjadikan kawasan taman sebagai ruang budaya, kemudian memperluasnya menjadi platform global melalui konektivitas dan pengembangannya. Kini, program tersebut telah mencapai Banda Aceh,” jelas Park.

Ia menambahkan, perpustakaan di ruang terbuka merupakan tempat bagi siapa saja untuk menikmati buku sembari merasakan suasana alam dan berbagi kebahagiaan bersama masyarakat lainnya.

Park berharap, kehadiran Banda Aceh Outdoor Library di Taman Bustanussalatin nantinya dapat memberikan semangat baru bagi masyarakat, khususnya anak-anak dan generasi muda, untuk semakin mencintai buku dan menjadikan membaca sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Kolaborasi Banda Aceh dan Seoul ini sekaligus membuka ruang pengembangan literasi dengan pendekatan yang lebih inklusif, menjadikan taman kota bukan sekadar ruang rekreasi, tetapi juga sebagai ruang belajar, ruang budaya, dan ruang tumbuh bersama bagi masyarakat.(DRM)

-Mj Eric Karno | Kaperwil | GWI-ACEH 

 

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *