Lapas Meulaboh Siapkan Warga Binaan Mandiri, Panen Lele Capai 200 Kilogram | GWI.co.id

banner 468x60

BREAKING NEWS : GWI ACEH 

Lapas Meulaboh Siapkan Warga Binaan Mandiri, Panen Lele Capai 200 Kilogram

Gabungnyawartawanindonesia.co.id | MEULABOH — Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Meulaboh, Aceh Barat, terus memperkuat pembinaan kemandirian warga binaan melalui program pertanian, budidaya ikan lele, dan peternakan ayam petelur. Salah satu program unggulannya, budidaya lele menggunakan kolam terpal, mampu menghasilkan panen hingga 200 kilogram dalam sekali panen.

Program tersebut menjadi bagian dari upaya membekali warga binaan dengan keterampilan produktif agar mampu mandiri dan memiliki peluang usaha setelah kembali ke tengah masyarakat. Selain mendukung pembinaan, kegiatan ini turut berkontribusi terhadap ketahanan pangan dan pengembangan usaha bernilai ekonomi.

Kepala Lapas Kelas IIB Meulaboh, Tendi Kustendi, menjelaskan bahwa pembinaan di lapas mencakup dua aspek utama, yakni pembinaan kepribadian dan pembinaan kemandirian. Hal itu disampaikannya pada Kamis (22/10/2026).

Menurut Tendi, pembinaan kepribadian dilaksanakan melalui kerja sama dengan sejumlah instansi, termasuk Kementerian Agama dan Dinas Sosial.

Sementara pembinaan kemandirian diarahkan pada kegiatan produktif, seperti penanaman kacang tanah, mentimun, pepaya California, budidaya ikan lele, serta peternakan ayam petelur.
“Paling tidak, warga binaan memiliki bekal keterampilan setelah bebas, sehingga kemampuan tersebut bisa dimanfaatkan untuk mencari penghidupan di luar,” kata Tendi.

Salah satu kegiatan yang menunjukkan hasil nyata ialah budidaya ikan lele. Dengan memanfaatkan kolam terpal, satu kolam dapat menampung sekitar 5.000 ekor lele dengan masa pemeliharaan hingga panen sekitar tiga bulan. Dari satu siklus budidaya, hasil panen mencapai 150 hingga 200 kilogram.

Hasil budidaya tersebut juga menarik minat pihak yang berkaitan dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG), sehingga membuka peluang pemasaran bagi hasil produksi warga binaan.

Tendi menambahkan, pendapatan dari penjualan hasil budidaya dimanfaatkan untuk menutupi biaya operasional. Sebagian penerimaan disetorkan sebagai penerimaan negara bukan pajak (PNBP), sedangkan warga binaan yang terlibat memperoleh premi sesuai ketentuan yang berlaku.

Meski demikian, pengembangan kegiatan pertanian masih menghadapi kendala, terutama keterbatasan irigasi untuk penanaman padi. Sebagai langkah penyelesaian, pihak lapas menjajaki kerja sama dengan Dinas Pertanian agar kegiatan tersebut dapat kembali berjalan secara optimal.

Di sisi lain, keterbatasan anggaran juga menjadi tantangan dalam memperluas program pembinaan kemandirian. Menurut Tendi, anggaran tahun 2026 belum mengakomodasi alokasi khusus untuk program tersebut karena anggaran yang tersedia masih diprioritaskan bagi kebutuhan gaji pegawai, makanan warga binaan, listrik, dan operasional perkantoran.

Untuk menjaga keberlanjutan program, Lapas Meulaboh menggandeng instansi terkait dan pihak ketiga guna mendukung pengembangan kegiatan pemberdayaan warga binaan.

Sebelum dilibatkan dalam kegiatan kerja, warga binaan terlebih dahulu menjalani asesmen dan mengikuti sidang Tim Pengamat Pemasyarakatan (TPP). Tahapan ini dilakukan untuk menilai kesiapan serta kesesuaian mereka dengan bidang keterampilan yang akan dijalani.

Melalui pembinaan yang berorientasi pada keterampilan dan produktivitas, Lapas Kelas IIB Meulaboh berharap warga binaan tidak hanya menjalani masa pembinaan, tetapi juga memiliki kemampuan nyata untuk membangun kehidupan yang mandiri, produktif, dan lebih baik setelah bebas.

-Ali Aceh : GWI-ACEH 

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *