Di Peking University, Iftitah: Bangun Pusat Pertumbuhan Ekonomi Tak Cukup Hanya dengan Infrastruktur

banner 468x60

Nomor: 303/HMS.00/X/2026*

Menjawab akademisi Tiongkok, Iftitah tekankan pendidikan, perubahan pola pikir, dan pengetahuan praktis sebagai kunci memutus rantai kemiskinan.

Beijing -Gabungnya Wartawan Indonesia.co.id-Membangun pusat pertumbuhan ekonomi baru bukan sekadar persoalan menyediakan lahan, infrastruktur, investasi, atau teknologi. Tantangan yang tidak kalah penting adalah menyiapkan manusia agar mampu beradaptasi, meningkatkan keterampilan, dan memanfaatkan kesempatan ekonomi yang tercipta.

Pandangan tersebut mengemuka dalam sesi diskusi kuliah umum Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara di Institute of South-South Cooperation and Development (ISSCAD), Peking University, Beijing, Senin (12/10/2026). Dalam kuliah umum bertajuk “Industrialisation Beyond Java: Transmigration and Indonesia’s New Growth Centres”, Iftitah memaparkan transformasi transmigrasi sebagai strategi membangun pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di luar Jawa.

Namun, perhatian para akademisi Peking University tidak hanya tertuju pada peluang industrialisasi. Mereka juga mempertanyakan berbagai tantangan mendasar, mulai dari kesiapan sumber daya manusia, perlindungan masyarakat lokal, layanan kesehatan dan pendidikan, hingga perubahan pola pikir yang diperlukan untuk mendukung pembangunan.

Salah satu pertanyaan disampaikan Profesor Huang Yiping, Dekan ISSCAD sekaligus National School of Development, Peking University. Huang mempertanyakan faktor paling menentukan dalam keberhasilan pembangunan pusat pertumbuhan ekonomi baru. Apakah keterbatasan tenaga kerja terampil, infrastruktur, pembiayaan, atau tantangan politik dan ekonomi?

Menanggapi pertanyaan tersebut, Iftitah mengakui membangun pusat pertumbuhan ekonomi bukan pekerjaan mudah. Keterbatasan infrastruktur, pendidikan, dan keterampilan tenaga kerja merupakan tantangan nyata yang harus diatasi secara bersamaan. Namun menurutnya, salah satu faktor paling mendasar adalah kemampuan membangun pola pikir yang terbuka terhadap pengetahuan, keterampilan, dan cara kerja baru.

Perubahan tersebut tidak dapat berlangsung secara instan. Dibutuhkan pendidikan, pendampingan, keteladanan, dan kesempatan bagi masyarakat untuk mencoba pendekatan baru dalam meningkatkan kehidupan mereka.

Iftitah menekankan berbagai keterbatasan tidak boleh menghilangkan optimisme dan keberanian untuk melakukan perubahan. Pembangunan harus terus diupayakan agar kemiskinan tidak menjadi keadaan yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

*Dari Persoalan Pupuk hingga Solusi Sederhana di Papua*

Pentingnya pengetahuan praktis kembali mengemuka ketika Profesor Wang Jinjie dari ISSCAD menanyakan peran pertukaran antardesa, pelibatan generasi muda, dan pelatihan masyarakat dalam mendorong perubahan. Iftitah menjelaskan salah satu pendekatan Kementerian Transmigrasi adalah menghadirkan profesor, peneliti, dan mahasiswa secara langsung ke kawasan transmigrasi untuk mendampingi masyarakat menyelesaikan persoalan nyata.

Ia mencontohkan pengalaman di Papua ketika masyarakat menghadapi keterbatasan pupuk untuk kegiatan pertanian. Melalui pendampingan akademisi, masyarakat diperkenalkan pada cara memanfaatkan kotoran sapi yang dikumpulkan dan diolah menjadi kompos.

Contoh sederhana tersebut menunjukkan penyelesaian masalah pembangunan tidak selalu membutuhkan teknologi mahal atau investasi besar. Terkadang, solusi sudah tersedia di sekitar masyarakat, tetapi pengetahuan mengenai cara memanfaatkannya belum cukup berkembang.

Menurut Iftitah, kondisi tersebut tidak menunjukkan ketidakmampuan masyarakat. Justru memperlihatkan pentingnya akses terhadap pengetahuan, pendampingan, dan kesempatan belajar secara langsung.

Karena itu, pendidikan dalam transformasi transmigrasi tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga melalui praktik, percobaan, dan pembiasaan hingga masyarakat mampu menerapkan pengetahuan secara mandiri. Pendekatan tersebut menjadi salah satu dasar pelaksanaan Tim Ekspedisi Patriot, yang melibatkan akademisi, peneliti, dan mahasiswa untuk membantu memecahkan persoalan pembangunan di kawasan transmigrasi.

*Investasi Harus Membawa Manfaat bagi Masyarakat Lokal*

Pertanyaan lain disampaikan Profesor Lei Xiaoyan dari Peking University mengenai bagaimana pembangunan kawasan industri dapat berjalan seiring dengan pemenuhan kebutuhan sosial masyarakat, termasuk pendidikan anak, pelayanan kesehatan, dan kesejahteraan warga lanjut usia.

Menanggapi hal tersebut, Iftitah menjelaskan pentingnya pembangunan kawasan secara terintegrasi. Ia mengangkat pengalaman pengembangan kawasan transmigrasi Barelang, khususnya Rempang yang menghadapi tantangan dalam mempertemukan kepentingan investasi dengan kebutuhan dan hak masyarakat setempat.

Menurutnya, pembangunan tidak cukup hanya menyediakan tempat tinggal baru atau mendatangkan perusahaan. Kawasan juga membutuhkan fasilitas pendidikan, kesehatan, serta kegiatan ekonomi yang memberikan kepastian penghidupan bagi masyarakat.

Iftitah menegaskan masyarakat setempat harus mendapatkan kesempatan nyata untuk ikut menikmati manfaat investasi, termasuk memperoleh akses pekerjaan dan meningkatkan keterampilan. Kepastian hak atas tanah, keberlanjutan mata pencaharian, dan pelibatan masyarakat sejak tahap perencanaan menjadi bagian penting untuk mencegah konflik serta membangun kepercayaan.

Dalam diskusi tersebut, turut dibahas bagaimana kawasan transmigrasi memiliki dua modal penting, yakni ketersediaan lahan dan tenaga kerja, yang perlu dihubungkan dengan ilmu pengetahuan serta teknologi agar dapat menghasilkan kegiatan ekonomi produktif.

*Durian Sulawesi dan Tantangan Menembus Pasar Tiongkok*

Diskusi juga menyentuh persoalan perdagangan dan hilirisasi komoditas unggulan Indonesia. Seorang peserta dari Tiongkok, Ji Quanling, mempertanyakan strategi peningkatan efisiensi rantai pasok durian untuk memenuhi permintaan pasar Tiongkok, sekaligus memastikan petani memperoleh manfaat ekonomi yang adil.

Iftitah menjelaskan Sulawesi memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai pusat produksi dan ekspor durian. Namun, pengembangan pusat ekspor membutuhkan kepastian pasokan, konsistensi mutu, serta volume produksi yang memenuhi skala ekonomi.

Apabila volume belum mencukupi untuk mendukung pengiriman langsung dari daerah penghasil, distribusi masih perlu melalui pusat logistik di wilayah lain, termasuk Jawa. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya pengembangan sentra produksi, infrastruktur logistik, fasilitas penanganan pascapanen, dan akses pasar yang lebih efisien.

Dengan demikian, pengembangan kawasan transmigrasi tidak hanya berkaitan dengan peningkatan produksi, tetapi juga kemampuan membangun rantai nilai yang memberikan manfaat lebih besar kepada petani dan pelaku usaha daerah.

Pertanyaan mengenai pengolahan kopi turut disampaikan peserta dari Ethiopia. Iftitah menjelaskan komoditas lokal, termasuk kopi, teh, dan hasil pertanian lainnya, menjadi salah satu basis pengembangan kegiatan ekonomi produktif di kawasan transmigrasi.

*Belajar dari Tiongkok, Membangun dengan Karakter Indonesia*

Profesor Zhou Yongmei dari ISSCAD juga menyoroti hubungan antara kebijakan transmigrasi dan pembangunan wilayah secara lebih luas. Menanggapi pertanyaan tersebut, Iftitah menyampaikan pengalaman Tiongkok dalam mengurangi kemiskinan di tengah jumlah penduduk yang sangat besar menjadi salah satu sumber pembelajaran bagi Indonesia.

Menurutnya, keberhasilan pembangunan memerlukan keterhubungan antara pertumbuhan ekonomi, pendidikan, kesehatan, infrastruktur, serta kemampuan masyarakat memanfaatkan peluang yang tersedia. Indonesia dapat mempelajari berbagai pengalaman tersebut dengan tetap menyesuaikannya pada kondisi geografis, sosial, dan budaya masing-masing wilayah.

Bagi Iftitah, transformasi transmigrasi pada akhirnya bukan hanya mengenai perpindahan penduduk atau pembangunan kawasan fisik. Transformasi tersebut juga menyangkut bagaimana masyarakat memperoleh pengetahuan, keterampilan, pekerjaan, dan kesempatan untuk memperbaiki kehidupannya.

Melalui pendekatan tersebut, kawasan transmigrasi diharapkan tidak hanya menjadi lokasi pertumbuhan industri, tetapi juga tempat tumbuhnya kemampuan masyarakat untuk membangun kesejahteraan secara berkelanjutan.

*Sumber: Tim Kementerian Transmigrasi*

Untuk informasi lebih lanjut, hubungi:

Kementerian Transmigrasi Republik Indonesia

📍 Jl. TMP Kalibata No.17, Jakarta Selatan 12750

📞 (021) 7994372

📧 humas@transmigrasi.go.id

🌐 www.transmigrasi.go.id

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *