Gedung Meuseuraya Aceh Tak Mampu Tampung Jamaah, Muzakarah Internasional Ulama Tauhid Sufi II Membludak Dua Hari Berturut-turut | GWI.co.id

banner 468x60

BREAKING NEWS : GWI ACEH 

Gedung Meuseuraya Aceh Tak Mampu Tampung Jamaah, Muzakarah Internasional Ulama Tauhid Sufi II Membludak Dua Hari Berturut-turut

Gabungnyawartawanindonesia.co.id | BANDA ACEH, 10 Oktober 2026 — Pelaksanaan Muzakarah Internasional Ulama Tauhid Sufi ke-II Tahun 2026 di Gedung Meuseuraya Aceh, Kompleks Balai Meuseuraya Aceh (BMA), Banda Aceh, mendapat sambutan luar biasa. Sejak hari pertama hingga hari kedua, peserta undangan istimewa, ulama, pimpinan dayah, cendekiawan Muslim, serta masyarakat dari berbagai daerah memadati lokasi kegiatan.

Tingginya antusiasme tersebut membuat kapasitas gedung tidak mampu menampung seluruh peserta secara bersamaan. Sementara itu, kawasan di luar gedung juga dipadati masyarakat yang datang untuk mengikuti dan menyaksikan rangkaian kegiatan. Kondisi tersebut dilaporkan turut menyebabkan kepadatan arus lalu lintas di sekitar lokasi.

Pada hari pertama, panitia melaporkan jumlah peserta di dalam gedung mencapai lebih dari 1.200 orang, jauh melampaui kapasitas yang semula dipersiapkan untuk sekitar 500 peserta undangan istimewa. Mereka terdiri atas ulama, pimpinan dayah, cendekiawan Muslim, dan pencinta tasawuf dari dalam maupun luar negeri.

Di luar gedung, jumlah masyarakat yang hadir diperkirakan mencapai puluhan ribu orang. Angka sekitar 50.000 orang disebut sebagai perkiraan kehadiran pengunjung dalam rangkaian kegiatan terbuka.

Berdasarkan pantauan di lokasi, aula utama Gedung Meuseuraya Aceh dipadati jamaah sejak pagi. Lantai dasar terisi penuh, sedangkan balkon lantai dua, selasar, hingga anak tangga juga dipenuhi peserta. Sebagian jamaah terpaksa berdiri karena keterbatasan tempat duduk.

Hari Kedua, Antusiasme Masyarakat Tetap Tinggi

Memasuki hari kedua, Sabtu (10/10/2026), antusiasme masyarakat terhadap Muzakarah Internasional Ulama Tauhid Sufi ke-II tetap tinggi. Jamaah dari berbagai kabupaten dan kota di Aceh, daerah lain di Indonesia, serta pengunjung dari mancanegara turut meramaikan kawasan kegiatan.

Muzakarah berlangsung pada 9–11 Oktober 2026 dengan tema “Mengangkat Ajaran Tauhid Sufi untuk Kesatuan dan Perdamaian Umat”. Kegiatan ini mempertemukan ulama, tokoh tasawuf, akademisi, dan masyarakat untuk membahas peran ajaran tauhid serta tasawuf dalam memperkuat persatuan dan perdamaian umat.

Kehadiran masyarakat umum di luar peserta undangan menunjukkan bahwa muzakarah tidak hanya menjadi forum keilmuan bagi ulama dan akademisi, tetapi juga menarik perhatian luas masyarakat yang ingin mengikuti kegiatan keagamaan tersebut.

Delegasi dari Berbagai Negara Hadir

Muzakarah internasional ini turut dihadiri ulama dan delegasi dari berbagai negara. Panitia menyebutkan kehadiran perwakilan dari 21 negara, termasuk Indonesia.

Sejumlah negara yang disebut dalam informasi kegiatan antara lain Turki, Maroko, Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, Thailand, Arab Saudi, Kamboja, Mesir, Palestina, Filipina, dan Suriah.

Kehadiran delegasi mancanegara memperkuat posisi muzakarah sebagai forum pertemuan ulama dan tokoh Islam lintas negara. Selain menjadi sarana silaturahmi, kegiatan ini diharapkan membuka ruang pertukaran pemikiran mengenai penguatan spiritualitas, persaudaraan, dan perdamaian.

Panitia Apresiasi Antusiasme Jamaah

Sekretaris Panitia Muzakarah Internasional Ulama Tauhid Sufi ke-II, Tgk. Agus Ramadhan, mengatakan tingginya jumlah jamaah yang hadir menjadi kebanggaan sekaligus tantangan bagi panitia dalam memastikan kelancaran kegiatan.

“Antusiasme masyarakat sangat luar biasa. Jamaah terus berdatangan dan memenuhi kawasan kegiatan. Ini menjadi kebahagiaan bagi panitia sekaligus tanggung jawab untuk memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan aman, tertib dan nyaman,” ujar Tgk. Agus Ramadhan.

Ia mengapresiasi dukungan masyarakat, petugas keamanan, relawan, serta seluruh pihak yang telah membantu penyelenggaraan muzakarah.

Menurutnya, besarnya partisipasi masyarakat perlu diimbangi dengan kesadaran bersama untuk menjaga ketertiban, mengikuti arahan petugas, serta memperhatikan keselamatan selama kegiatan berlangsung.

Menguatkan Pesan Tauhid dan Tasawuf

Ketua Umum Majelis Pengkajian Tauhid Tasawuf Indonesia (MPTT-Indonesia), Abi Sahal Tastari Waly, menjelaskan bahwa muzakarah menjadi momentum untuk memperkenalkan khazanah tasawuf Aceh kepada dunia.

Nilai-nilai tasawuf diharapkan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari melalui pembinaan akhlak, pembersihan hati, pengendalian diri, serta penguatan hubungan sosial yang harmonis.

Melalui forum ini, para peserta diharapkan dapat memperdalam pemahaman mengenai peran tauhid dan tasawuf dalam memperkuat ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan kehidupan masyarakat yang damai.

Menghidupkan Kembali Khazanah Tasawuf Aceh

Aceh memiliki sejarah panjang dalam perkembangan Islam dan tradisi tasawuf di Nusantara. Nama Hamzah Fansuri dan Syekh Abdurrauf as-Singkili menjadi bagian penting dari sejarah intelektual Islam yang berkaitan erat dengan perkembangan pemikiran tasawuf.

Penasihat panitia, Abu Syukri Daud Pango, sebelumnya menyampaikan harapan agar ajaran sufi kembali berkembang di Aceh. Tradisi tersebut dinilai memiliki akar sejarah yang kuat sejak masa Kesultanan Aceh.

Penyelenggaraan muzakarah internasional ini diharapkan menjadi ruang untuk memperkenalkan kembali warisan intelektual tersebut sekaligus mengembangkan dialog keislaman yang mendorong persaudaraan, persatuan, dan perdamaian.

Kepadatan Jadi Perhatian Panitia

Membludaknya jamaah turut menghadirkan tantangan dalam pengaturan kapasitas gedung, akses masuk, parkir, dan kelancaran arus lalu lintas di sekitar lokasi.

Karena itu, koordinasi antara panitia, petugas keamanan, dan instansi terkait menjadi penting untuk memastikan seluruh rangkaian kegiatan berlangsung aman dan tertib. Masyarakat yang hendak menghadiri acara juga diharapkan mengikuti arahan petugas di lapangan.

Besarnya jumlah peserta dan pengunjung sekaligus menjadi bahan evaluasi bagi penyelenggaraan kegiatan berskala internasional berikutnya, khususnya dalam memperhitungkan kapasitas tempat dan kebutuhan pelayanan bagi masyarakat.

Momentum Syiar Islam dari Serambi Mekkah

Membludaknya jamaah selama dua hari pelaksanaan memperlihatkan besarnya perhatian masyarakat terhadap kegiatan keagamaan yang mengangkat nilai tauhid, tasawuf, pembinaan akhlak, persatuan, dan perdamaian.

Keberhasilan muzakarah tidak hanya diukur dari jumlah peserta yang hadir, tetapi juga dari gagasan, rekomendasi, dan manfaat yang dapat diwujudkan setelah kegiatan berakhir.

Rangkaian Muzakarah Internasional Ulama Tauhid Sufi ke-II dijadwalkan berlangsung hingga Minggu (11/10/2026), dengan agenda lanjutan berupa sidang komisi dan perumusan risalah atau rekomendasi Banda Aceh.

Melalui kegiatan ini, Aceh diharapkan terus berperan dalam memperkuat silaturahmi ulama dan umat sekaligus menyuarakan pesan persatuan serta perdamaian dari Serambi Mekkah untuk dunia.(Sekjend Sekber Aceh)

-Reporter/Pers Media GWI-ACEH Wilayah Aceh : Kaperwil -Mj Eric Karno 

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *