Ikhtiar Mulia Kalapas Meulaboh: Bangun Kesadaran Warga Binaan Melalui Rutin Shalat Dhuha dan Yasinan Bersama | GWI.co.id

banner 468x60

BREAKING NEWS : GWI ACEH 

Ikhtiar Mulia Kalapas Meulaboh: Bangun Kesadaran Warga Binaan Melalui Rutin Shalat Dhuha dan Yasinan Bersama

Gabungnyawartawanindonesia.co.id | MEULABOH, ACEH BARAT
Ada pemandangan berbeda dan penuh haru di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Meulaboh setiap Jumat pagi. Suasana yang biasanya identik dengan kesan keras, kini berubah menjadi suasana religius, aman, tertib, dan sangat kondusif.

Semua itu berkat ikhtiar mulia dari Kepala Lapas (Kalapas) Meulaboh yang secara konsisten menggelar program pembinaan kerohanian melalui Shalat Dhuha dan Yasinan Bersama setiap hari Jumat.

Kalapas Meulaboh,Tendi Kustendi. dalam keterangannya mengatakan, program ini bukan sekadar kegiatan rutin seremonial, melainkan sebuah sentuhan religius di balik jeruji besi untuk mengetuk hati dan membangun kesadaran warga binaan.

“Kami ingin menciptakan lingkungan Lapas yang aman, tertib, dan kondusif tidak hanya dengan pendekatan keamanan, tapi dengan pendekatan hati. Sentuhan religius melalui Shalat Dhuha dan Yasinan Jumat ini adalah ikhtiar kami dan seluruh warga binaan untuk lebih dekat kepada Allah SWT,” ujar Kalapas Meulaboh dengan penuh ketulusan.

Pantauan di lapangan, ratusan warga binaan dengan khusyuk mengikuti Shalat Dhuha berjamaah dilanjutkan dengan pembacaan Surat Yasin dan doa bersama. Wajah-wajah mereka terlihat tenang, penuh penyesalan, dan berharap ampunan.

Menurut Kalapas, dampak dari kegiatan ini sangat luar biasa:

1. Lingkungan Lapas Menjadi Aman dan Kondusif: Hati yang tenang menjauhkan warga binaan dari gesekan dan pelanggaran.
2. Membangun Kesadaran dan Taubat: Yasinan menjadi momen introspeksi diri bagi warga binaan untuk bertaubat dan memperbaiki diri.
3. Pembinaan Mental yang Hakiki: Lapas tidak hanya membina fisik, tapi juga membangun mental dan spiritual agar saat bebas nanti mereka menjadi manusia yang lebih baik.

Program Shalat Dhuha dan Yasinan Jumat ini kini telah menjadi budaya dan tradisi positif di Lapas Meulaboh. Bukan paksaan, melainkan kesadaran bersama antara petugas dan warga binaan.

Langkah humanis Kalapas Meulaboh ini pun mendapat apresiasi dari berbagai pihak. Pendekatan religius dinilai sebagai metode pembinaan paling efektif dan menyentuh akar permasalahan.

“Jeruji besi hanya membatasi fisik, tapi tidak bisa membatasi hati untuk bertaubat. Melalui Dhuha dan Yasinan ini, kami ingin mereka sadar bahwa Allah Maha Pengampun dan masa depan yang lebih baik masih terbuka lebar,” tutup Kalapas Meulaboh.

-Reporter/Pers Media GWI-ACEH Wilayah Aceh : Wakaperwil -Mj.Ali Aceh

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *