TANGERANG, gabungnyawartawanindonesia.co.id., – Dentum tambur bertalu memecah langit malam, simbal beradu dalam ritme repetitif yang terukur, sementara kepala naga hijau dan tubuh merah keemasannya meliuk dengan presisi nyaris matematis. Di halaman Vihara Boen Tek Bio, pada Senin malam (16/2/2026), Perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili menjelma lebih dari sekadar seremoni tahunan. Ia tampil sebagai artikulasi identitas yang ditata melalui pendekatan manajerial modern.
Di tengah gegap gempita tambur dan gemerincing simbal yang memecah udara Kota Tangerang, Vihara Boen Tek Bio menampilkan lebih dari sekadar pertunjukan budaya. Kelenteng tertua di Tangerang ini menghadirkan sebuah praktik manajemen tradisi yang terstruktur, modern, dan terukur sebuah model pengelolaan kultural yang menempatkan tata kelola sebagai fondasi keberlanjutan identitas, atraksi barongsai dan liong sebagai klimaks perayaan. Namun, di balik koreografi dinamis dan energi kolektif yang mengalir deras, terselip konsep yang tak lazim dalam lanskap kebudayaan STNHB BTB Performance.
Ketua Boen Tek Bio, Ruby Santamoko, S.Ag., M.MPd., menjelaskan bahwa STNHB merupakan akronim dari Sanggar Tari dan Naga Hong Boen Tek Bio. Ia menegaskan, entitas tersebut tidak semata wadah seni pertunjukan, melainkan model tata kelola organisasi berbasis sistem.

“BTB atau back to back kami terapkan sebagai filosofi kerja berurutan tanpa jeda. Seluruh agenda tersusun sistematis, mulai dari pengelolaan kas (cash management), koordinasi data, hingga eksekusi teknis pertunjukan,” ujarnya kepada wartawan.
Pendekatan ini mengadaptasi prinsip disiplin finansial dan sinkronisasi data yang lazim dalam tata kelola korporasi. Dalam konteks perayaan, sistem tersebut memastikan setiap tahapan—logistik, keamanan, hingga jadwal tampil berjalan presisi tanpa tumpang tindih.
Secara struktural, model ini merefleksikan transformasi lembaga keagamaan menjadi organisasi tata kelola modern. Transparansi anggaran, pembagian tugas berjenjang, serta standar operasional yang terdokumentasi menunjukkan bahwa tradisi tidak identik dengan spontanitas, melainkan dapat disangga oleh rasionalitas administratif.
Ruby menegaskan bahwa keberlanjutan tradisi di Vihara Boen Tek Bio tidak dapat dilepaskan dari tata kelola yang terstruktur dan visioner. Menurutnya, manajemen di tubuh komunitas bukan sekadar perangkat administratif, melainkan fondasi kultural yang menopang eksistensi tradisi di tengah perubahan zaman.
“Manajemen bagi kami bukan hanya soal teknis mengatur jadwal atau membagi peran. Ini adalah infrastruktur kultural. Tradisi tidak cukup dirayakan, ia harus dikelola secara sistematis agar tetap hidup dan relevan,” jelas Ruby di sela perayaan.
Dominasi pemain muda dalam tubuh STNHB menjadi indikator penting keberlanjutan budaya. Anak-anak dan remaja tampil memegang peran sentral dalam atraksi liong dan barongsai. Regenerasi berlangsung bukan melalui transmisi verbal semata, melainkan praktik koreografis yang sistematis dan terkurasi.
Menurut Ruby, setiap aspek pertunjukan—mulai dari pengelolaan sumber daya manusia, kurasi atraksi liong dan barongsai, hingga pembinaan generasi muda disusun melalui perencanaan matang, disiplin latihan berjenjang, dan evaluasi berkala. Pendekatan tersebut, kata dia, menjadi kunci agar nilai-nilai warisan leluhur tidak tereduksi menjadi seremoni simbolik semata.
“Regenerasi tidak terjadi secara otomatis. Ia harus dirancang. Anak-anak dan remaja kami libatkan sebagai aktor utama, bukan sekadar pelengkap. Di situlah keberlanjutan dibangun,” ungkapnya.
Pernyataan itu menegaskan satu hal di Boen Tek Bio, pelestarian budaya tidak berdiri di atas romantisme masa lalu, melainkan di atas sistem yang dikelola secara sadar, profesional, dan berorientasi jangka panjang.
Lebih jauh, Ruby menambahkan bahwa manajemen di tubuh komunitas bukanlah sekadar perangkat teknis administratif, melainkan infrastruktur kultural. Dalam kerangka itu, pengelolaan sumber daya manusia, kurasi pertunjukan, hingga pembagian peran dalam atraksi liong dan barongsai disusun melalui perencanaan sistematis, disiplin latihan yang berjenjang, serta evaluasi berkala.
“Tradisi ini tidak hanya dirayakan, ia harus dikelola,” tutupnya, dalam perbincangan di sela perayaan.
Pernyataan tersebut mencerminkan pergeseran paradigma, pelestarian budaya tidak lagi dipahami sebagai reproduksi ritual yang statis, melainkan sebagai proses dinamis yang menuntut profesionalisme. Dalam konteks ini, manajemen menjadi medium yang menjembatani nilai-nilai warisan leluhur dengan tuntutan zaman.
Dominasi pemain muda dalam tubuh Sekolah Tari Naga dan Barongsai Ho Bio (STNHB) menjadi indikator paling kasat mata dari strategi keberlanjutan tersebut. Anak-anak dan remaja bukan sekadar pelengkap seremoni, melainkan aktor utama yang memegang peran sentral dalam koreografi liong dan barongsai.
Transmisi pengetahuan tidak berhenti pada narasi lisan tentang sejarah dan filosofi, tetapi diwujudkan dalam praktik koreografis yang sistematis dan terkurasi. Setiap gerakan, lompatan, hingga sinkronisasi ritme ditransformasikan menjadi ruang pedagogis—tempat disiplin, kerja kolektif, dan kesadaran identitas ditanamkan sejak dini.
Fenomena ini menunjukkan bahwa tradisi bertahan melalui adaptasi. Koreografi yang lebih sinkron, formasi yang presisi, serta dramaturgi pertunjukan yang terkonsep menandakan internalisasi nilai profesionalisme ke dalam praktik ritual.
Tradisi, dalam konteks ini, tidak diperlakukan sebagai artefak statis, melainkan sebagai praktik sosial yang terus dinegosiasikan sesuai tuntutan zaman.
Dari abad ke-17, Boen Tek Bio memegang posisi historis signifikan dalam perkembangan komunitas Tionghoa di Tangerang. Kini, fungsinya berkelindan antara ruang spiritual dan ruang publik kebudayaan. Tahun Baru Imlek kali ini lebih terbuka bagi masyarakat lintas latar belakang untuk memperlihatkan Kelenteng tidak lagi sekadar ruang ibadah eksklusif, melainkan arena interaksi sosial.
Transformasi ini memperlihatkan bagaimana situs religius dapat berperan sebagai episentrum kohesi sosial, terutama dalam konteks masyarakat urban yang plural. Atraksi Tari Naga menjadi titik kulminasi malam itu. Dalam kosmologi Tionghoa, naga melambangkan vitalitas, harapan, dan pembaruan.
Gerakan dinamis yang berpadu dengan rampak tambur menciptakan lanskap bunyi dan visual yang menggugah kesadaran historis sekaligus emosional. Setiap liukan naga yang dimainkan secara back to back tanpa jeda menjadi metafora kesinambungan. Tradisi bergerak maju, tidak tercerabut dari akar, namun diselaraskan dengan dinamika kota yang terus bertransformasi.
Perayaan ini menjadi afirmasi identitas sekaligus penguatan solidaritas sosial untuk menunjukkan bahwa modernitas tidak harus menjadi ancaman bagi tradisi. Keduanya dapat bersintesis melalui tata kelola yang adaptif dan kesadaran historis yang kuat serta menunjukan perannya sebagai jangkar kebudayaan ruang di mana identitas dirawat, dirayakan, dan ditata dengan presisi zaman.
(M.yunus harahap/Rohim).



















