banner 728x250

40 Tahun Terpisah, Aksi Tokoh Masyarakat Satukan Kembali Keluarga Ambai

banner 120x600
banner 468x60

Kapuas Hulu,gabungnyawartawan indonesia.co.id-Kalbar-, Aksi kemanusiaan yang dilakukan seorang tokoh masyarakat berhasil menyatukan kembali keluarga Saudara Ambai yang telah terpisah selama kurang lebih 40 tahun. Pertemuan penuh haru tersebut menjadi penutup dari perjalanan panjang pencarian yang sarat luka, pengorbanan, dan harapan.Ucapnya Tokoh Masyarakat Stepanus Panus,Rabu 28/01/2026.

banner 325x300

Saudara Ambai diketahui meninggalkan kampung halamannya sejak usia muda untuk bekerja sebagai buruh kayu dan mengikuti kapal. Sejak saat itu, Ambai tidak pernah lagi bertemu maupun berkomunikasi dengan keluarganya.

Dalam perjalanannya, ia kemudian menetap di Kalimantan Tengah, membangun keluarga, serta memeluk agama Islam (mualaf).

Menurut keterangan keluarga, almarhum orang tua Ambai semasa hidup telah berupaya keras mencari keberadaan anaknya.

Bahkan, kapal ikan milik keluarga rela dijual demi membiayai pencarian Ambai ke berbagai daerah. Namun, seluruh usaha tersebut tidak membuahkan hasil hingga orang tua Ambai meninggal dunia.

Duka keluarga semakin mendalam ketika pada masa lalu beredar kabar kelam dari wilayah Setunggul, Kecamatan Silat Hilir, Kabupaten Kapuas Hulu, Keluarga memperkirakan almarhum orang tua Ambai meninggal secara tidak wajar.

Pada saat itu, keluarga sempat menerima informasi adanya temuan yang dikira bagian jasad almarhum. Namun setelah dipastikan, ternyata yang dikuburkan bukan jasad manusia. Peristiwa tersebut meninggalkan trauma dan ketidakpastian panjang bagi keluarga.

Puluhan tahun berlalu tanpa kabar, hingga akhirnya harapan kembali muncul melalui jaringan relasi yang menghubungkan Saudara Ambai dengan Saudara Panus, tokoh masyarakat yang dikenal luas dan dipercaya karena kepeduliannya dalam membantu masyarakat di berbagai wilayah.

Selanjutnya Stepanus Panus selaku tokoh adat menyampaikan kepada awak media ini bahwa kemudian melakukan pendampingan langsung dalam proses penelusuran keluarga Ambai. Perjalanan kemanusiaan tersebut tidak mudah.

Rombongan menempuh perjalanan dari Pontianak menuju Nanga silat dengan waktu tempuh sekitar delapan jam, kemudian dilanjutkan perjalanan menuju kampung selama kurang lebih dua jam.

Di tengah perjalanan, rombongan bahkan sempat tersesat akibat kondisi medan yang cukup sulit.

Namun seluruh kelelahan terbayar ketika Saudara Ambai akhirnya tiba di kampung halaman dan bertemu kembali dengan keluarga besarnya.

Kedatangan Ambai disambut dengan penuh antusias. Tangis haru pecah saat pertemuan yang telah dinantikan selama empat dekade itu akhirnya terwujud.

Keluarga menyambut Ambai dengan hangat melalui tradisi panasan sebagai simbol penerimaan dan rasa syukur.

Saudara Pus menegaskan bahwa aksi pendampingan ini murni dilakukan atas dasar kemanusiaan.

“Ini bukan soal kepentingan apa pun, bukan mencari keuntungan, dan bukan mengungkap kasus besar. Ini murni membantu masyarakat yang membutuhkan dengan ikhlas dan tanpa mengharapkan imbalan,” ujarnya.

Seluruh rangkaian perjalanan, proses pencarian, hingga pertemuan keluarga tersebut didokumentasikan dalam bentuk foto dan video.

Dokumentasi itu rencananya akan dipublikasikan melalui media online serta platform media sosial seperti TikTok dan YouTube sebagai bentuk transparansi sekaligus untuk menginspirasi kepedulian sosial di tengah masyarakat.

Kisah Saudara Ambai menjadi bukti bahwa kepedulian, gotong royong, dan ketulusan masih hidup di tengah masyarakat, serta mampu menyatukan kembali keluarga yang telah terpisah oleh waktu dan keadaan.

 

 

Pewarta : Rinto Andreas

Facebook Comments Box
banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

PAGE TOP